Blog

  • Sita Alfiyah: Turut berkontribusi untuk memajukan pendidikan di Indonesia dengan passion yang dimiliki

    Pada kesempatan ini, Sita Alfiyah yang mana merupakan salah satu alumni dari program pendidikan Magister Psikologi Profesi bidang Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2011 membagikan kisahnya selama berkuliah di Fakultas Psikologi UGM serta perjalanan kariernya di dunia pendidikan. Selama menjalankan pendidikan magister profesinya, alumnus yang lulus pada tahun 2013 ini tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi juga banyak pengalaman berharga yang mendukung kariernya saat ini. Misalnya saja melalui kegiatan perkuliahan ia terdorong untuk selalu disiplin, profesional, aktif dan kritis dalam berpikir, bereksplorasi dan beradaptasi yang sangat mendukung kariernya saat ini. Tidak hanya itu, program praktik kerja profesi yang ia lakukan juga mengajarkannya untuk mampu memahami masalah para siswa serta mengajarkannya untuk meningkatkan pengelolaan diri sehingga kini tidak terkejut ketika menghadapi kendala serupa di dunia kerja.

    Salah satu kegiatan perkuliahan yang ia ikuti, memantik ketertarikannya untuk bergabung dengan lembaga pemangku kepentingan bidang pendidikan sebagai upaya untuk turut andil membangun pendidikan di Indonesia. Berangkat dari pemikirannya tersebut, ia kemudian bergabung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil. Bergabung dengan instansi ini mewujudkan keinginannya untuk mampu menerapkan ilmu psikologi di dunia pendidikan dan secara tidak langsung berkontribusi dalam memajukan pendidikan Indonesia.

    Perjuangannya untuk berkontribusi di dunia pendidikan dimulai saat ia bergabung di Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini, kemudian menjadi bagian dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Melalui perjalanan dinas selama berkarier di Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, ia menjumpai berbagai permasalahan dalam satuan pendidikan terutama psikologis siswa yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu agar siswa daerah bisa mendapatkan pelayanan profesional psikologis secara cuma-cuma. Selanjutnya, Sita berupaya untuk melakukan langkah-langkah kecil dengan mendorong fasilitator di daerah dalam optimalisasi peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama.

    Pada awal pandemi Covid-19 lalu, Sita mendapatkan tugas baru di Pusat Penguatan Karakter sebagai seorang Analis Pendampingan Belajar di kelompok kajian konten penguatan karakter. Dalam tugasnya ini ia melakukan berbagai hal mulai dari memberikan masukan bahan ajar agar mudah dipahami, menyusun modul pelatihan dan buku pendidikan keluarga, membuat kegiatan edukasi kepada fasilitator pendidikan keluarga yang telah dilatih oleh direktoratnya yang terdahulu. Salah satu kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung adalah kegiatan psikoedukasi siswa SMA Negeri 10 Purworejo dengan media grup Whatsapp. Kegiatan psikoedukasi tersebut mendapat respon positif dari para siswa dan juga guru karena sifatnya yang mengedukasi serta memotivasi siswa untuk terus mengembangkan diri.

    Berdasarkan temuan di lapangan, Sita berfikir bahwa kondisi yang serupa bisa saja terjadi di sekolah lain dan belum tentu mendapatkan penanganan yang tepat. Dengan adanya kondisi ini, ia mengajak alumni melalui Paguyuban Alumni Magister Profesi Psikologi (PAMPsi) untuk bekerjasama memperluas kegiatan psikoedukasi yang sudah ia lakukan di SMA N 10 Purworejo ke sekolah-sekolah lainnya. Dengan mengantongi izin dari dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Jawa Tengah kegiatan Psikolog Masuk Sekolah (PSIMAS) dapat dilakukan di 12 sekolah dan selanjutnya dengan izin dari Gubernur Jawa Tengah yakni H. Ganjar Pranowo, S.H., M.IP. kegiatan ini dikembangkan ke sekolah-sekolah lainnya di Jawa Tengah hingga kini telah dilakukan di 80 sekolah mulai dari jenjang SMP, SMA, dan SMK.

    Proses yang ia tempuh beserta tim untuk mampu menjalankan program ini tidaklah mudah, terutama ketika ia harus mengorganisir anggota yang rata-rata adalah orang sibuk. Namun demikian, mengingat kembali harapan yang muncul dari PSIMAS yakni mendorong pengembangan diri dan membantu mengatasi permasalahan psikologis siswa secara mudah serta memfasilitasi alumni turut berperan mendukung kemajuan pendidikan Indonesia, kendala yang ada dapat diatasi. Selain itu, kondisi yang ada justru memotivasinya untuk melakukan segala upaya menjaga agar program ini terus berjalan.

    Perjalanan karier Sita mulai dari lulus sebagai seorang psikolog hingga saat ini tidaklah luput dari kendala dan tantangan, tetapi ia mampu mengatasinya dengan berusaha memaknai setiap peristiwa sebagai kesempatan belajar menjadi lebih baik. Selain itu, ia juga berprinsip bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan dan teruslah menembangkan potensi yang ada sehingga menjadi manfaat untuk orang lain tanpa perlu menghindari kendala tersebut maupun frustasi menghadapinya. Hal ini sejalan dengan ucapan salah satu dosen saat ia magister, “tidak perlu menguasai semua hal, tetapi fokuslah pada passion kita. Kita semua juga memiliki keterbatasan, tetapi kita bisa fokus untuk memilih apa yang kita suka dan mengembangkan diri, karena kalau kita suka maka tidak akan terasa berat”.

    Terlepas dari kendala yang ia alami, Sita menyampaikan bahwa ada banyak hal positif yang ia rasakan selama perjalanan kariernya ini. Berbagai pengalaman menyenangkan ia dapatkan ketika menjalani tugas ke daerah-daerah untuk melakukan bimbingan teknis, menjadi narasumber kegiatan, monitoring dan evaluasi serta masih banyak lagi. Berikut ini sebagian kecil dari pengalaman positif yang ia rasakan mulai dari menemukan praktik pendidikan yang bagus dan inspiratif, mengetahui kondisi pendidikan di daerah sekaligus menemukan dan mengerti permasalahan yang dihadapi satuan pendidikan di sana hingga pengalaman lain yang berkaitan dengan peningkatan wawasan budaya maupun hal yang tak terlupakan saat perjalanan menuju beberapa daerah.

    Sita juga menambahkan, meskipun bekerja di kementerian atau lembaga negara tidak selalu mendapat tugas yang 100% sesuai dengan kompetensi keilmuan psikologi, tetapi kita tidak perlu untuk menghindar karena sejatinya yang kita pelajari pasti memberikan manfaat. Ia juga membagikan beberapa saran bagi teman-teman mahasiswa ataupun alumni muda yang akan maupun sedang berkarier. Kita harus tetap semangat untuk memberikan kontribusi ilmu psikologi sesuai dengan passion yang kita miliki. Kita juga tidak perlu ragu untuk memulai apa yang diimpikan, mulai saja dahulu tanpa menunggu sempurna dan teruslah belajar agar kita dapat menjadi lebih baik lagi dan bermanfaat daripada sebelumnya. (Anjuni)

     

  • Laela Siddiqah: Membangun Biro Psikologi sebagai Sarana Mengabdi dan Berbagi

    Memulai pendidikan sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 1999 menjadi karunia dan kebahagiaan tersendiri bagi Laela Siddiqah. Meskipun sempat mengalami kendala pada tahun pertama perkuliahannya, alumnus yang kini menetap di Bontang, Kalimantan Timur ini tidak mudah menyerah dan terus berjuang. Melalui perjuangan tersebut ia tidak hanya mampu menyesuaikan dengan kehidupan perkuliahan tetapi juga mengukir beragam prestasi dan tetap aktif terlibat di kegiatan kemahasiswaan seperti Lembaga Mahasiswa Fakultas Psikologi. Salah satunya yaitu berkesempatan mendapatkan posisi tiga besar untuk skripsi yang ia tulis pada salah satu kompetisi penulisan ilmiah, yaitu Suwarsih Warnaen Award tahun 2004.

    Setelah menamatkan pendidikan Sarjana pada tahun 2004 dan bekerja beberapa waktu, Laela berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan Magister Profesi Psikologi dan lulus pada tahun 2009. Perjalanan yang ia lalui untuk menyelesaikan pendidikannya tidak mudah, terlebih dengan status long distance marriage (LDM). Namun demikian, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk kembali berprestasi. Seperti pada kesempatan sebelumnya, tugas akhir atau tesis yang ia susun mendapatkan juara dua pada Kompetisi Nasional Tesis Psikologi I tahun 2010, dan karyanya juga masuk ke jurnal.

    Lulus dengan berbagai pencapaian yang memuaskan, alumnus yang pernah menjadi asisten psikolog di Unit Konsultasi Psikologi (UKP) UGM ini melanjutkan hidupnya di Bontang Kalimantan Timur mengikuti lokasi pekerjaan sang suami. Pada saat itu, Laela yang mengetahui bahwa di daerah tersebut baru ada satu biro psikologi yang hari praktiknya terbatas, merasa tergerak untuk mendirikan sebuah biro yang nantinya dapat memberikan layanan kepada masyarakat secara lebih maksimal. Bersama kedua temannya, Laela berhasil mendirikan Lembaga Psikologi Insan Cita pada bulan Januari 2010 sebagai wadah untuk mengamalkan ilmu dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

    Mendirikan lembaga psikologi di daerah pada saat itu tidaklah mudah. Laela beserta dua orang temannya mendapatkan tantangan yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Dengan masih terbatasnya biro psikologi yang ada di Bontang, maka tidak heran jika literasi masyarakat mengenai kesehatan mental dan juga peran psikolog masih rendah. Berkenaan dengan hal tersebut, tantangan pertama yang dihadapi pada tahun pertama mendirikan lembaga psikologi adalah mengenalkan siapa itu psikolog, layanan psikologis, serta menjalin kerja sama dengan beragam instansi di sekitar Bontang. Selain itu, karena kurangnya pemahaman mengenai layanan psikologis, cukup banyak klien yang tidak berkenan membayar sesuai standar harga pelayanan.

    Dari segi administrasi dan internal, biro yang ia dirikan juga menghadapi kendala tersendiri berkaitan dengan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) maupun persaingan pasar tenaga kerja dengan perusahaan besar di kota tersebut. Dengan kondisi SDM seperti itu, mau tidak mau tim dari biro psikologi yang digawanginya ini sering kali mengalami pergantian anggota. Tidak hanya itu, terbatasnya SDM terutama sarjana psikologi juga menjadi tantangan tersendiri karena program asistensi yang biasanya dapat dilakukan oleh sarjana psikologi juga terhambat. Sedangkan tantangan lain yang harus ia hadapi hingga saat ini adalah mengembangkan diri dan terus berinovasi untuk menguatkan kapasitas diri dalam memberikan layanan psikologis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

    Asam garam yang telah ia rasakan selama menjalankan dan mengembangkan Lembaga Psikologi Insan Cita sebelas tahun terakhir mengajarkannya banyak hal terutama terkait dengan kendala atau tantangan yang disebutkan sebelumnya. Laela menjelaskan beberapa hal yang ia terapkan maupun tanamkan dalam pikirannya. Pertama, dalam menyelesaikan kendala yang berkaitan dengan masyarakat dan lingkungan, kita perlu memiliki pemahaman mengenai kondisi dan juga karakteristik dari lingkungan kita. Dengan begitu kita dapat menentukan strategi yang tepat dan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Kedua, di samping harus memiliki harapan yang ideal, memiliki kesediaan hati untuk menerima hasil yang berbeda dari harapan kita juga salah satu hal penting yang harus ditekankan kepada diri sendiri. Hal ini dikarenakan proses mengembangkan biro itu tidaklah mudah dan perjalanannnya penuh dengan lika-liku. Ketiga, kemampuan untuk menyesuaikan beberapa aspek tanpa menghilangkan poin-poin mendasar dalam pelayanan psikologis juga perlu untuk diterapkan. Hal tersebut dikarenakan saat berpraktik di lapangan, kita akan berinteraksi dan bekerja sama dengan berbagai orang dengan karakteristik maupun latar belakang yang berbeda. Keempat, dari dalam diri sendiri juga perlu bersedia untuk selalu belajar dan terbuka dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Kelima dan menjadi kunci adalah miliki dan ingatlah alasan yang kuat dan mendasar dari terbentuknya biro ini beserta tujuannya. Adanya alasan yang kuat dan tujuan yang besar ini akan menjadi modal untuk selalu bangkit setiap kali jatuh atau merasa belum mencapai harapan yang ingin diwujudkan.

    Meskipun perjalanannya dalam berpraktik dan mengembangkan biro psikologi menghadapi beragam kendala dan tantangan, ia tetap dapat menikmati profesi saat ini dengan dibuktikan beragam pengalaman berharga yang ia dapatkan selama ini. Sebagai seorang psikolog, hal yang menyenangkan bagi Laela ketika berpraktik adalah melihat perkembangan positif pada diri klien. Selain itu, adanya respon dan mendapatkan kesan baik dari klien atas layanan yang ia berikan juga meninggalkan kesan tersendiri bagi Laela. Bukan hanya itu, beragam kegiatan pemberdayaan masyarakat maupun kegiatan sosial yang ia lakukan bersama dengan berbagai instansi juga memunculkan kebahagiaan tersendiri untuknya. Misalnya saja melalui kesempatan bergabung dengan satuan tugas (satgas) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di bawah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berecana Kota Bontang, staf ahli di LK3 di bawah Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat serta menjadi pengurus PKK Kota Bontang. Tidak berhenti pada kegiatan-kegiatn tersebut, pengalaman menyenangkan juga ia dapatkan dari beragam aktivitas di bidang pendidikan seperti turut aktif menggagas Kelas Inspirasi dan mengajak masyarakat dari beragam kalangan untuk menjadi relawan pengajar di sekolah-sekolah pinggiran. Selain menjadi salah satu sumber kebahagiaan selama berpraktik, beragam kegiatan yang ia lakukan ini juga menjadi sarana yang baik untuk Leala mengenal dan dikenal masyarakat luas.

    Selain aktif dengan praktik dan beragam kegiatan kemasyarakatan, Laela juga menjadi bagian dari Psikolog Masuk Sekolah (Psimas) yang digagas tahun 2020 oleh Paguyuban Alumni Magister Profesi Psikologi (PAMPSI). Ia bergabung dengan kegiatan ini dengan tujuan untuk meningkatkan kontribusinya di dunia pendidikan serta menjadi sarana untuk menggaungkan serta menguatkan peran psikolog baik di lingkungan masyarakat maupun instansi pendidikan. Kegiatan Psimas ini juga menjadi sarana baginya untuk selalu terhubung dengan rekan sejawat dari berbagai daerah yang mana juga dapat menjadi ajang berdiskusi serta kolaborasi dalam menyusun strategi baru untuk praktik. Tidak hanya itu, kegiatan-kegiatan yang ia lakukan bersama Psimas juga menyenangkan dan memberikan penyegaran serta membangkitkan semangat untuk terus berbagi di tengah pandemi.

    Tidak hanya membagikan pengalamannya sejak menjalani perkuliahan hingga kini telah sukses dengan praktik yang ia jalankan, Laela juga membagikan beberapa pesan untuk teman-teman mahasiswa maupun alumni muda, terutama para calon psikolog. Apabila memiliki keinginan untuk membangun biro psikologi setamat pendidikan Magister Profesi Psikologi terutama di daerah, maka harus memantapkan hati serta milikilah alasan yang kuat. Selain itu, di tengah perkembangan teknologi yang tidak terbendung, gunakanlah teknologi yang tersedia saat ini dengan baik untuk promosi, interaksi, kolabolasi dan masih banyak lagi. Tidak lupa untuk mempelajari karakteristik lingkungan agar dapat menentukan strategi yang tepat kedepannya. Pesan terakhir adalah mulailah dan terus berjalan serta berbuat, karena setiap perjalanan menjadi “isi” dan menjadi penguat untuk biro yang didirikan. (Anjuni)

  • Halalbihalal Kapsigama: Syukur Nikmat Berlimpah Berkah

    Keluarga Alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada atau Kapsigama melangsungkan kegiatan Halalbihalal yang dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 4 Juni 2021. Kegiatan yang dilangsungkan secara online atau daring melalui Zoom Meeting ini dihadiri oleh sekitar 200 orang peserta mulai dari alumni hingga dosen dan tenaga pendidik Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Acara halalbihalal ini bertujuan sebagai salah satu bentuk silaturahmi Kapsigama pada bulan Syawal 1442 Hijriah dan mengeratkan hubungan kekeluargaan antar cluster maupun angkatan.

    Kegiatan halalbihalal tersebut mengundang Ustaz Wijayanto untuk memberikan tausiyah dengan tema syukur nikmat berlimpah berkah. Acara ini diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara yakni Mbak Nhira alumnus Fakultas Psikologi Angkatan 2007. Kemudian dilanjutkan dengan penayangan video persembahan dari Bahana Kapsigama yang membawakan beberapa lagu untuk memeriahkan kegiatan halalbihalal.

    Setelah penampilan video persembahan dari Bahana Kapsigama, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Prabaswara Dewi, S.Psi., Psikolog atau yang kerap disapa Kak DJ selaku Ketua Kapsigama.  Selanjutnya acara diisi dengan sambutan serta ramah tamah dari perwakilan alumni dari masing-masing program pendidikan mulai dari sarjana hingga doktoral. Kegiatan kemudian memasuki acara inti yakni tausiyah dari Ustaz Wijayanto. Beberapa hal yang dibahas dalah tausiyah tersebut seperti pentingnya pemahaman akan ilmu dan guidance dalam melakukan amalan maupun ibadah hingga makna dan bentuk-bentuk berkah yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya.

    Pada kegiatan ini, Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) yakni H. Ganjar Pranawa, S.H., M.IP. turut hadir dan memberikan sambutan. Setelah sesi tausiyah, kegiatan dilanjutkan dengan dengan sesi tanya jawab antara peserta halalbihalal dengan Ustaz Wijayanto. Panitia kegiatan halalbihalal juga memberikan doorprize untuk peserta dengan beragam kriteria maupun melalui pertanyaan yang dilemparkan untuk para peserta.

  • Nur Zidny Ilmanafia: Memadukan Teknologi dan Psikologi Untuk Meningkatkan Pelayanan Konsumen

    Nur Zidny Ilmanafia atau yang kerap disapa dengan nama Zidny merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berkarier sebagai User Experience (UX) Researcher. Alumni angkatan 2014 ini mengisi masa perkuliahhannya dengan beragam kegiatan di dalam maupun di luar fakultas untuk mengembangkan minat dan bakat yang ia miliki. Beberapa aktivitas yang ia ikuti seperti bergabung dengan Center of Indigenous and Cultural Psychology (CICP) yang membawa Zidny masuk dan berkecimpung di dunia penelitian. Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama menjadi bagian dari CICP yakni mengikuti konferensi dan melakukan presentasi hasil penelitian di Asian Association Indigenous Cultural Psychology (AAICP) yang dilaksanakan pada tahun 2015 lalu. Tidak hanya itu, ia yang juga aktif di Sanggar Kesenian Aceh UGM (SAKA UGM) mendapatkan kesempatan untuk mengikuti dan meraih juara dalam kompetisi folklore internasional di Italia. Keikutseraannya pada kegiatan tersebut memberikan wadah tersendiri bagi Zidny untuk mengasah keterampilan project management yang bermanfaat hingga kini.

    Alumni yang mengawali karier sebagai freelance researcher di salah satu e-commerce terbesar di Indonesia ini membagikan perjalanannya hingga kini berkecimpung di dunia UX research. Zidny mengisahkan bahwa ia memiliki minat yang tinggi terhadap hal-hal yang berbau teknologi sedari ia duduk di bangku sekolah. Minatnya tersebut terus tumbuh dan saat memasuki dunia perkuliah ia memiliki ketertarikan tersendiri mengenai keterkaitan antara perilaku manusia dengan teknologi. Sejalan dengan minat yang ia miliki, aktivitas yang ia lakukan di kampus juga turut mengasah keterampilannya dalam melakukan penelitan. Pada akhir masa perkuliahan hingga setelah kelulusannya, Zidny mulai tertarik untuk memasuki bekerja di perusahaan dengan basis teknologi. Meskipun memiliki minat dan passion yang kuat di bidang tersebut, keterbatasan informasi saat itu membuatnya kesulitan dalam menemukan celah untuk bergabung di perusahaan teknologi. Berbekal rasa ingin tahu yang tinggi dan keuletan yang ia miliki, Zidny menemukan peluang kerja di e-commerce dengan latar belakang pendidikan psikologi yang ada yakni di sebagai UX researcher. Area kerja seorang UX researcher merupakan ranah yang banyak menerapkan prinsip-prinsip psikologi dalam praktiknya.

    Seiring tumbuhnya perusahaan berbasis teknologi di seluruh penjuru dunia dan tidak terkecuali Indonesia, kebutuhan akan UX researcher ini juga terus meningkat, akan tetapi tidak banyak yang mengetahui bidang tersebut. Berdasarkan pengalaman yang ia miliki, Zidny membagikan beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan seorang UX researcher. Ia menceritakan bahwa pada dasarnya, tugas utama yang ia miliki adalah melakukan riset baik kuantitatif maupun kualitatif dalam rangka mengumpulkan insight tentang perilaku dan kebutuhan pengguna yang mana insight tersebut digunakan sebagai acuan dalam proses mendesain suatu produk.

    Alumni yang saat ini bekerja di Jabar Digital Service ini menggambarkan beberapa perbedaan pekerjaan sebagai UX researcher di dua area yang berbeda, instansi pemerintahan, dan e-commerce. Perbedaan utama dan mendasar adalah orientasi pekerjaan yang saling bertolak belakang. Perusahaan swasta lebih bertujuan pada peningkatan bisnis dan profit, sedangkan instansi milik pemerintah proyek-proyeknya cenderung berorientasi untuk memfasilitasi digitalisasi penyelenggaraan pemerintahan dan layanan masyarakat. Hal lain yang berbeda ialah familiaritas instansi terhadap human-centered design, yang mana perusahaan-perusahaan swasta sudah lebih dahulu mengedepankan pendekatan tersebut, sedangkan pendekatan ini merupakan hal baru bagi instansi pemerintahan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena memerlukan penyesuaian dalam penerapannya, terutama berkaitan dengan pengembangan produk pada kondisi atau kebijakan yang berubah-ubah.

    Meskipun terkendala akan proses desain produk yang belum mengedepankan prinsip human-centered, ia menjelaskan bahwa ada beberapa cara yang biasa digunakan dalam mempromosikan empati terhadap pengguna. Pertama, dengan cara konsisten memberikan valuable insight berdasarkan hasil riset yang menunjukkan kesulitan yang dialami pengguna.  Tahap selanjutnya, ia akan mengeksplorasi cara-cara kreatif dalam mengkomunikasikan hasil riset agar lebih mudah dipahami oleh pihak-pihak terkait. Selain itu, ia juga berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam memberikan ide serta solusi untuk memecahkan permasalahan yang ada. Meskipun pekerjaan ini memiliki challenge tersendiri, Zidny mengungkapkan bahwa pengalaman positif juga ia alami seperti berkembangnya kesadaran mengenai pentingnya curiousity dan penggunaan data sebagai dasar pengambilan keputusan, selalu adaptif, kreatif dan juga inovatif. Selain itu, Zidny juga merasakan bahwa secanggih apapun teknologi yang dikembangkan tidak bisa optimal jika tidak memperhatikan pengguna.

    Akhir-akhir ini, mulai banyak perusahaan maupun instansi yang mulai menyadari betapa pentingnya orientasi dan riset terhadap pengguna. Kondisi ini dijelaskan Zidny membuat kebutuhan akan UX researcher berkembang pesat. Mengingat tingginya kebutuhan di lapangan, Zidny memberikan beberapa saran bagi para alumni muda maupun teman-teman mahasiswa yang ingin bergelut di bidang yang sama. Pertama-tama, kita harus bangga sebagai lulusan Fakultas Psikologi UGM karena banyak ilmu yang sangat relevan untuk diterapkan dalam bidang UX research, seperti aspek kognitif maupun sosial yang mempengaruhi perilaku pengguna. Selanjutnya kita dapat membangun portfolio yang relevan melalui perlombaan, komunitas, seminar hingga kegiatan magang. Meskipun belum memiliki portfolio yang relevan, kita dapat mengembangkan portfolio melalui studi kasus UX dari suatu aplikasi. Selain pengetahuan yang berkaitan dengan perilaku konsumen, Zidny juga menyarankan agar selalu membuka wawasan dan mempelajari ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan bisnis dan perkembangan teknologi. Hal tersebut bertujuan agar daya saing kita di pasar pekerja tetap tinggi dan senantiasa menjadi problem solver yang mengeimbangkan desirability (keinginan dan kebutuhan pengguna), feasibility (dapat dimplementasikan secara teknis), dan viability (menguntungkan secara bisnis). (Anjuni)

  • Alumni Berbagi dan Peluncuran Aplikasi Psikolog Masuk Sekolah

    Pandemi covid-19 masih terus berlangsung dan kini masyarakat telah memasuki fase transisi kebiasaan baru. Di tengah kondisi tersebut, alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan kegiatan alumni berbagi untuk tetap memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat. Berkaitan dengan pandemik yang belum usai, alumni Fakultas Psikologi menyelenggarakan kegiatan tersebut secara virtual melalui platform Zoom Meeting dan juga live streaming Youtube.

    Pada pertengahan bulan Februari lalu, tepatnya pada tanggal 14 Februari 2021, Paguyuban Alumni Magister Psikologi Profesi (PAMPsi) Fakultas Psikologi UGM mengadakan kegiatan peluncuran aplikasi “Psikolog Masuk Sekolah”. Kegiatan tersebut diawali dengan kegiatan “Belajar Public Speaking Bersama Mas Hilbram Dunar” sebagai bentuk pembekalan bagi para relawan sehingga dapat memberikan layanan yang baik dan maksimal dalam pelaksanaan Program Psikolog Masuk Sekolah. Kegiatan tersebut memberikan banyak pengetahuan dan ilmu baru terkait public speaking yang sangat bermanfaat bagi para peserta. Tidak hanya itu, beberapa tips and tricks terkait public speaking melalui media internet juga diberikan dan mendapatkan respon yang positif. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan peluncuran dan dan koordinasi internal para relawan program tersebut.

    Tidak lama berselang, alumni Fakultas Psikologi UGM juga mengadakan alumni sharing session dengan judul Clinical Psychologist for Dummies. Kegiatan yang dilangsungkan pada tanggal 20 Februari 2021 tersebut diisi oleh Widya S. Sari, M.Psi., Psikolog. Ia merupakan alumni Fakultas psikologi 2003 yang saat ini bekerja sebagai Psikolog di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta. Kegiatan dimoderatori oleh Benaya Callista ini dihadiri oleh 102 peserta yang terdiri dari calon wisusadawan, alumni, dan masyarakat umum. Melalui kegiatan alumni sharing session tersebut, Widya membagikan berbagai pengalamannya sebagai psikolog dan membagikan informasi terkait ranah kerjanya tersebut.

    Alumni Fakultas Psikologi UGM bersama Office of Cooperation, International Affairs, and Alumni (OCIA) selalu berupaya menghadirkan kegiatan-kegiatan bermanfaat untuk menjawab kebutuhan publik. Nantikan dan ikuti kegiatan alumni Fakultas Psikologi UGM serta OCIA lainnya. Agar tidak ketinggalan informasinya, ikuti akun sosial media kami @ocia.psyugm (Instagram).

  • Ariana Marastuti: Memutar Haluan dari Aktivis menjadi Akademisi

    Alumni yang kerap disapa Ariana ini merupakan alumni angkatan 1996 yang saat ini berkarier sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketika masih menjadi mahasiswa, ia sudah tertarik dan aktif dengan beragam aktivitas di organisasi maupun pergerakan mahasiswa. Salah satu organisasi yang diikuti Ariana adalah Himpunan Mahasiswa Islam atau yang sering disingkat HMI. Luasnya jejaring yang ia miliki saat mahasiswa membuatnya semakin kritis serta menyadari pentingnya pendekatan lintas keilmuan untuk memahami dan menyelesaikan permasalahan sosial. Tidak hanya aktif di dunia organisasi kemahasiswaan serta sebagai aktivis, Ariana juga mengikuti berbagai kompetisi penelitian tingkat lokal dan nasional yang menjadi langkah awal untuk mencoba menggunakan berbagai pendekatan dalam ilmu psikologi untuk memahami permasalahan dan mencari upaya penyelesainnya. Kolaborasi dengan mahasiswa dari latar belakang keilmuan yang berbeda sudah di mulai sejak penelitian saat mahasiswa tersebut, seperti melakukan kajian psikologi arsitektur dengan mahasiswa arsitek untuk mendesain lingkungan industri kecil.

    Beragam aktivitas tersebut menjadikan alumni anggota senat mahasiswa ini sudah terbiasa bekerja sama dengan organisasi maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Yogyakarta. Dengan pengalaman yang ia miliki, Ariana kemudian bergabung dengan LSM yang berfokus pada isu-isu sosial di masyarakat. Keterlibatan dalam dunia aktivis isu-isu sosial tersebut akhirnya mendekatkan Ariana pada isu-isu gender yang sangat lekat dengan isu sosial, terutama hak asasi perempuan serta kekerasan berbasis gender.  Setelah berkarier di Institut Hak Asasi Perempuan (IHAP) sebagai peneliti dan pengorganisasi di masyaraat, ia semakin yakin untuk membangun di dunia LSM dan menjadikan kajian gender sebagai fokus utamanya. Setelah beberapa waktu mengabdi di bidang tersebut, Ariana melamar beasiswa dan melanjutkan studi di Washington University di St. Louis Amerika Serikat dengan tujuan untuk memperdalam ilmu yang dimiliki serta mendukung tujuannya mewujudkan masyarakat yang adil gender.

    Setelah menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan gelar Master of Social Work, ia kembali lagi menekuni dunia LSM dan tetap aktif melakukan penelitian tentang gender. Namun, suatu waktu ia berfikir untuk menjadi staf pengajar atau dosen karena kecitaannya dengan dunia penelitian dan pengajaran, seperti keinginannya sejak lama. Dengan menjadi seorang dosen, ia memiliki kesempatan untuk memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat. Ia merasa bahwa ilmunya akan lebih bermanfaat ketika dia berbagi kepada khalayak yang lebih luas serta bisa membekali generasi muda untuk menjadi agen perubahan masyarakat di masa depan. Kesempatan berbagi tersebut dapat difasilitasi melalu proses pengajaran, penelitian, pelatihan, dan penguatan baik melalui mahasiswa di bangku perguruan tinggi.

    Perjalanan karier yang berubah dari seorang aktivis atau praktisi menjadi akademisi memberikan tantangan tersendiri bagi Ariana. Meskipun ada kemiripan antara aktivis dan akademisi, terdapat pula beragam tantangan yang harus ia hadapi. Misalnya saja seperti perubahan budaya di tempat kerja dari yang egaliter saat di LSM berubah menjadi lebih formal, terstruktur dan relasi yang lebih berjenjang di dunia ademik. Tidak hanya itu, sebagai seorang pegawai di lembaga universitas yang memiliki aturan yang lebih baku juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Meskipun demikian, ia mengungkapkan bahwa beragam tantangan baru yang muncul dari perubahan kariernya dapat ia atasi dengan cara selalu belajar dengan terbuka dan adaptif dalam mempelajari budaya baru, selalu mendengarkan masukan serta tidak malu untuk bertanya. Setelah menjadi staf pengajar, Ariana tidak begitu saja lepas dari dunia LSM. Ia tetap mampu berkontribusi dengan membantu dalam beragam aktivitas seperti kegiatan penguatan bagi komunitas, hingga memberikan penyuluhan dan training tentang gender di pemerintahan dan masyarakat.

    Sebagai seseorang yang sudah malang melintang di dunia aktivis maupun akademisi, Ariana berpesan kepada teman-teman mahasiswa mupun alumni muda terkait berkarier di kedua bidang tersebut. Bekerja dibidang apapun, baik LSM maupun akademisi, sama baiknya. Dunia praktisi tidak selalu jauh dari dunia akademisi, yang mana sebagai praktisi atau aktivis, individu tetap dituntut untuk selalu belajar dan memperbaharui pengetahuan seperti para akademisi. Hal tersebut menuntut siapapun yang terjun ke kedua ranah tersebut untuk terus tumbuh dan berkembang agar mampu bertahan dan berhasil di ranah yang dipilih. Ia juga menekankan bahwa baginya, bekerja bukan hanya perkara minat, ataupun sekedar membangun karir, namun juga tentang kontribusi yang diberikan individu yang bersangkutan bagi masyarakat. (Anjuni)

  • BV E-Talk #10 – How Innovations Evolve Talent Development

     

     

    A company is an ever-changing entity. With the pandemic happening, every
    company around the world is forced to implement the most rapid changes in a short
    amount of time, that will change the future of work. Innovations happening daily,
    affecting the greatest asset of those companies, its people. BV E-Talk 10 has
    successfully delivered an update on what is relevant and evolving in terms of talent
    development.

    Collaborating with Victoria University Business Club, Taylor’s University Student
    Council, and OCIA Faculty of Psychology Universitas Gajah Mada, Bukit Vista
    hosted BV E-talk #10 – How Innovations Evolve Talent Development. The E-Talk was
    delivered by our amazing speakers; Melisa Kurniawati from DHL Express Indonesia,
    Saudi Khaneng from AWC PCL, and Endah Palupi from BD.

    We covered several topics suggested by the Co-Hosts around the organizational
    culture, the future of career planning, and skills needed for starting a career in a new
    industry. Not only that, the talk continued with audience-suggested topics about
    office politics, the mindset needed for change-making, and trust within the
    workplace. You can watch the inspiring E-Talk from our Youtube channel.

    Bukit Vista is a Bali villa management startup company. We manage 170+ luxury
    properties in Bali, Yogyakarta, and Nusa Penida. Currently, we are open for many
    remote internship positions, especially in Human Resources. Browse the opportunity
    to join our super team at our website here. Inspire Delight!

  • Pelaksanaan Kegiatan Reuni Alumni Fakultas Psikologi UGM di Tengah Pandemi Covid-19

    Tahun 2020 tidak terasa akan segera berakhir dan meninggalkan beragam kenangan bagi setiap individu. Tahun ini terbilang sangat bersejarah untuk peradaban umat manusia, terlebih lagi dengan adanya pandemi Covid-19 yang menyerang seluruh belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Pandemi ini memaksa manusia untuk beradaptasi dengan cepat pada kondisi yang tidak menentu. Setiap individu, komunitas hingga organisasi-organisasi besar diminta untuk mampu bertahan di tengah kondisi yang ada.

    Kondisi pandemik yang terjadi pada tahun ini membuat masyarakat harus mengurangi aktivitas di luar rumah dan interaksi langsung dengan manusia yang lain. Hal tersebut menjadikan beragam kegiatan mengalami perubahan dari di luar jaringan (luring) menjadi dalam jaringan (daring). Perubahan ini merupakan salah satu bentuk adaptasi yang dilakukan oleh manusia. Salah satu kegiatan yang mengalami perubahan adalah kegiatan reuni alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

    Kegiatan reuni pertama yang dilakukan ditengah masa pandemi ini adalah puncak rangkaian reuni perak Angkatan 1995. Kegiatan yang telah sukses dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2020 lalu dengan judul Alumni Sharing Session: Mendukung Potensi Anak Usia Dini di Masa Pandemi. Kegiatan yang menghadirkan Edilburga Wulan Saptandari, Ph.D. sebagai pembahas ini beserta tiga orang alumni yang telah memiliki banyak pengalaman di dunia pendidikan sebagai narasumbernya. Ketiga pembicara tersebut adalah Endah Arumbini Setyawati, S.Psi. (Wakil Kepala Sekolah KB/TK Kalam Kudus Yogyakarta), Dyah Kusumaning Harini, S.Psi. (principal dari Taman Balita, Daycare & TK Ceria) dan F. Ana Rukma Dewi, S.Psi (Koordinator Labschool Rumah Citta). Kegiatan dilaksanakan melalui platform Zoom ini dihadiri sekitar 140 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Beragam tanggapan positif diberikan para peserta yang merasakan bahwa kegiatan alumni sharing session ini sangat bermanfaat terutama pada kondisi pandemi ini.

    Menyusul kesuksesan acara reuni angkatan 1995, acara reuni lain juga diselenggarakan pada bulan Desember ini. Kegiatan reuni tersebut merupakan acara reuni Angkatan 1983. Acara yang juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dies natalis Fakultas Psikologi UGM ini juga sukses dilaksanakan hari Jumat 4 Desember 2020 lalu. Kegiatan yang mengusung konsep bedah buku karya alumni angkatan 1983 ini mampu menarik banyak pendaftar dalam jangka waktu pendaftaran yang terbilang sangat singkat. Acara bedah buku yang dilakukan dalam dua sesi ini dimoderatori oleh Prof. Dra. R.A. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. pada sesi 1 dan sesi 2 dimoderatori oleh Drs. Andang Lukitomo, Psikolog. Pembicara atau pemateri pada kegiatan bedah buku ini merupakan alumni yang turut serta menulis buku tersebut. Pada sesi 1, pemaparan materi disampaikan oleh Drs. L. Sastra Wijaya, Dra. Istiyani Susriyati, Psikolog dan Dra. Aloysia Endang SSS, Psikolog, sedangkan pada sesi 2 diisi oleh Drs. Arif Nurcahyo, M.A., Drs.Musa Tanaja, M.Si. dan Dra. Wita Hendardijati, Psikolog. Adanya kegiatan reuni sekaligus peluncuran buku tersebut memberikan banyak insight bagi para peserta terutama alumni muda mengenai penerapan maupun pengaruh dari ilmu psikologi yang dirasakan oleh alumni 1983.

    Kedua kegiatan alumni tersebut menjadi bukti bahwa pandemik yang sedang melanda tidak dapat menghentikan semangat alumni Fakultas Psikologi untuk tetap produktif dan memberikan manfaat bagi almamaternya. Kedepannya diharapkan lebih banyak kegiatan alumni lain yang bisa terfasilitasi dengan baik secara luring maupun daring, sehingga komunikasi dan relasi antara Fakultas Psikologi dengan alumni maupun dengan sesama alumni dapat terjalin dengan lebih baik lagi.

  • Pengen Ngobrol: Alumni Sharing Session yang Mewadahi dan Menjembatani Mahasiswa serta Alumni untuk Berdiskusi Mengenai Dunia Karier

    Office of Cooperation, International Affairs, and Alumni (OCIA) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama tim Pengen Ngobrol yang terdiri dari Yuman Amir (angkatan 2015), Bernardus Aji Prasetyo (angkatan 2016) serta M. Farie Ath Thaariq (angkatan 2016) mengadakan serangkaian kegiatan alumni sharing session. Kegiatan yang disebut dengan Pengen Ngobrol ini merupakan alumni sharing yang berbentuk talkshow yang dilaksanakan secara daring dengan konsep kasual yang mengangkat isu-isu terkait dunia kerja. Pengen Ngobrol ini menjadi jawaban dan jembatan bagi mahasiswa yang selama ini masih bingung dengan karier yang akan dipilih, karena melalui acara Pengen Ngobrol mahasiswa mendapatkan wadah untuk berdiskusi dengan alumni yang berkiprah di berbagai area, mulai dari praktisi, peneliti, maupun akademisi. Selain itu, kegiatan Pengen Ngobrol ini juga berguna untuk menciptakan dinamika pembelajaran yang career oriented dan menjadi sebuah komunitas antar angkatan yang terintegrasi, terutama sebagai media komunikasi mengenai dunia karier.

    Pengen Ngobrol sendiri telah rutin dua minggu sekali sejak tanggal 8 Agustus 2020 lalu. Pada episode pertama, Pengen Ngobrol mengangkat isu yang paling sering ditemukan pada mahasiswa, yakni berkarier sebagai praktisi atau akademisi. Episode pertama ini diisi oleh Diandra Isrodiah Pramumardani yang berprofesi sebagai praktisi di bidang talent development Perum Peruri serta Acintya Ratna Priwati yang berprofesi sebagai dosen dan peneliti. Melanjutkan episode pertama, episode kedua masih membahas topik yang masih terbilang umum yakni melanjutkan pendidikan atau berkarier. Episode yang dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 2020 ini menghadirkan Firman M. Firmansyah, alumni angkatan 2007 yang berprofesi sebagai Computational Social Science Researcher. Beliau dipilih untuk membagikan pengalamannya karena ia memilih untuk melanjutkan pendidikan di bidang yang teknologi terutama computational yang menjadi minatnya, setelah ia sukses berkarier di sebuah perusahaan ternama di Indonesia.

    Setelah melaksanakan dua episode untuk membahas topik-topik yang masih sangat luas, Pengen Ngobrol kembali mengadakan episode tiga pada 5 September 2020 dengan topik yang sudah mulai mengerucut yakni karier di bidang Psikologi Klinis. Dengan mengangkat “The Journey & Career in Clinical Psychology” sebagai judul, Pengen Ngobrol kali ini bertujuan untuk memberikan gambaran karier yang sama-sama di ranah klinis tetapi dengan latar belakang pendidikan maupun spesialisasi yang berbeda, yakni psikolog yang dipaparkan oleh Annisa Peodji P., M.Psi., Psikolog dan akademisi serta aktivis disampaikan oleh Regisda Machdy, S.Psi., M.Sc. Dengan dilaksanakannya episode tiga ini, diharapkan para mahasiswa memiliki pandangan baru mengenai ranah psikologi klinis membutuhkan seluruh peran dari berbagai pihak, baik psikolog, akademisi maupun aktivis.

    Setelah berjalan hingga episode tiga yang mulai mengerucut, Pengen Ngobrol episode empat yang diadakan pada hari Sabtu tanggal 26 September ini membawakan topik baru yang cukup banyak diminta oleh para peserta, yakni karier di dunia Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Seperti yang umumnya diketahui, sebagian besar lulusan psikologi memilih untuk masuk ke dunia PIO. Namun sangat disayangkan bahwa tidak banyak dari mahasiswa yang mengetahui bahwa ranah PIO tidak hanya berkisar di Talent Accuisition dan Human Resources saja. Hal ini membuat tim Pengen Ngobrol menghadirkan dua orang narasumber yang berkarier di dunia PIO yang spesialisasi kerjanya belum banyak diketahui mahasiswa. Kedua narasumber tersebut adalah Fhajar Widhi Skripstiardi dan Khusni Mustaqim yang memiliki beragam pengalaman di dunia Psikologi Industri dan Organisasi tidak hanya di bagian Human Resources, tetapi juga Organization Development. Pengalaman yang dibagikan oleh kedua alumni tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran baru mengenai ranah Psikologi Industri dan Organisasi yang sebenarnya memiliki cakupan yang sangat luas untuk dieksplorasi oleh mahasiswa maupun alumni muda.

    Menjawab permintaan dari peserta talkshow yang sangat tertarik ranah Psikologi Forensik, Pengen Ngobrol mengajak Putri Marleni dan Lucia Peppy Novianti untuk membagikan pengalamannya sebagai praktisi di bidang tersebut melalui Pengen Ngobrol episode lima yang dilaksanakan tanggal 3 Oktober 2020. Kedua narasumber tersebut sama-sama berkecimpung di dunia Psikologi Forensik meskipun memiliki fokus dan latar belakang yang cukup berbeda. Pada praktiknya, Putri lebih banyak menjurus ke arah advokasi sedangkan Peppy sebagai psikolog berkualifikasi forensik dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Melalui Pengen Ngobrol, peserta dan narasumber dapat berdiskusi mengenai hal-hal yang terkait profesinya masing-masing, dari cara memenuhi kualifikasi forensik dan lain sebagainya.

    Sebagai penutup dari rangkaian kegiatan Pengen Ngobrol di semester gasal tahun ajaran 2020/2021 ini, Pengen Ngobrol menyelenggarakan talkshow episode enam pada tanggal 6 November lalu dengan judul “The Journey and Career: A Human-Centered Approach in Tech Industry”. Pada episode ini, Pengen Ngobrol berupaya memberikan gambaran mengenai penerapan ilmu-ilmu psikologi di ranah industri teknologi dengan dua narasumber yang berpengalaman di bidang tersebut. Keduanya adalah M. Rieza Rakhman yang berprofesi sebagai Consumer Engagement Associate Manager Gojek dan Nur Zidny Ilmanafia yang berkarier sebagai UX Researcher di Jabar Digital Service. Narasumber pada episode ini membagikan pengalamanya dalam berkarya di industri tersebut, bagaimana menerapkan ilmu dari psikologi dalam bekerja, seperti mengkombinasikan kemampuan meneliti dengan consumer behavior.

    Pelaksanaan rangkaian kegiatan Pengen Ngobrol ini memberikan insight bagi para mahasiswa terutama dalam melihat peluang karier di masa yang akan datang. Dengan banyaknya manfaat yang dapat dirasakan, kegiatan alumni sharing session seperti ini akan kembali diadakan di semester yang akan datang dengan topik diskusi dan metode yang menarik. Jangan sampai ketinggalan!

  • Nadya Permata: Menerapkan Ilmu Psikologi untuk Berdinamika dan Beradaptasi di Dunia Kerja

    Nadya Permata merupakan salah satu alumni yang terbilang aktif saat menjalani pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satu kegiatan kemahasiswaan yang diikuti adalah Keluarga Muslim Psikologi (KMP). Saat aktif di sana, alumni angkatan 2003 ini berkesempatan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat umum dan anak-anak, salah satunya adalah Nuansa. Dalam kegiatannya di Nuansa, ia mendapatkan berbagai ilmu dan pengalaman yang sangat berguna untuk kariernya saat ini, terutama berkaitan dengan pemasaran hingga fundraising. Tidak hanya itu, Nadya juga menemukan passion-nya di dunia marketing dan entrepreneurship melalui beragam pengalaman tersebut.

    Setelah menamatkan pendidikannya di Fakultas Psikologi UGM, berbekal minatnya di bidang marketing sekaligus adanya keinginan berkarier di dunia Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) seperti kebanyakan lulusan di tahun tersebut, ia memutuskan untuk melanjutkan kariernya di bidang ini. Nadya memilih mengawali kariernya di bidang perbankan dengan bergabung pada Officer Development Program (ODP) Bank Mandiri. Bergabung sebagai salah satu talent ODP, Nadya diberikan kesempatan untuk mempelajari hal baru dan hal-hal yang selama ini tidak pernah dipelajarinya, terutama berkaitan dengan dunia bisnis, hukum hingga keuangan. Menjalani masa tersebut selama satu tahun tersebut memanglah tidak mudah, tetapi dengan ilmu yang didapatkannya di Fakultas Psikologi UGM ia mampu beradaptasi, bertahan dan terus berkembang. Selepas masa trainee tersebut, ia ditempatkan di Lampung dan diminta untuk turun langsung di bidang yang sepenuhnya bisnis, bukan human resources seperti kebanyakan lulusan psikologi yang berkarier di dunia PIO.

    Menjalani karier selama hampir 13 tahun di dunia bisnis dan perbankan memang tidak membuatnya lepas begitu saja dari penerapan ilmu psikologi. Dengan jabatannya saat ini, yakni Kepala Cabang Bank Mandiri, ia banyak menerapkan ilmu PIO terutama organizational development. Dengan ilmu yang ia miliki tersebut, ia mampu mengatur timnya sehingga dapat bekerja dengan baik di tengah tuntutan dan ritme pekerjaan yang tinggi. Tidak hanya itu, dengan ilmu psikologi yang ia miliki, ia mampu memahami tim dan anggotanya juga beragam pandangan dan pemikiran yang dimiliki masing-masing individu dalam timnya tersebut.

    Seperti pekerja pada umumnya, ia juga mengalami berbagai kendala dalam bekerja, baik datang dari pekerjaan maupun kehidupan pribadinya. Pada tahun 2012, ia menemui kendala yang berkaitan erat dengan pembagian waktu antara pekerjaan dan keluarga. Nadya yang saat itu baru saja melahirkan putrinya yang premature harus mengahadapi pilihan untuk menemani sang putri untuk menjalani operasi jantung atau melanjutkan tugas belajar dari Bank Mandiri di Columbia University, yang mana kedua kesempatan tersebut sama berharganya. Meskipun sempat merasakan ini sebagai kendala dalam bekerja, ia tetap memilih sang anak dan keluarga menjadi prioritas utama dan meninggalkan kesempatan tugas belajar di luar negeri. Di saat memilih diantara kedua keputusan tersebut, ia meyakini bahwa “tidak apa-apa ketika tidak memiliki gelar yang tinggi, karena suatu saat pasti ada pengganti yang sesuai dan tidak harus mendapat hal yang sama dengan itu.” Dengan menghadapi kendala tersebut secara bijaksana dan dewasa, ia mampu menemani sang buah hati untuk menjalani pengobatannya dan tetap menjalani karier di Indonesia. Tidak hanya itu, keyakinan yang ia miliki akan adanya “pengganti” dari pengorbanan yang dilakukannya benar-benar membawa hasil yang manis. Ia memang melepaskan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan master, tetapi ia mendapat kesempatan lain dari Bank Mandiri untuk mengikuti beragam kegiatan termasuk 3 summer courses yang dilaksanakan di luar negeri. Dengan menjalani kursus tersebut, ia mendapatkan ilmu yang banyak serta tetap dapat berkontribusi bagi perusahaannya.

    Sebagai alumni yang telah berkarier lama dan memiliki pengalaman yang beragam di bidang PIO, Nadya memberikan beberapa pesan kepada para alumni muda maupun mahasiswa. Perjalan kehidupan yang beragam mengharuskan kita sebagai individu untuk memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Kemampuan ini menjadikan individu tidak mudah menggerutu maupun menyalahkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Selain itu, kemampuan adaptasi juga memudahkan individu untuk berfikir cepat terutama dalam mengambil langkah untuk menyesuaian dengan perubahan yang ada. Tidak hanya kemampuan adaptasi, pekerjaan dengan rasa positif dan diiringi dengan usaha juga menjadi hal yang diperlukan individu dalam menghadapi dunia saat ini, terutama di tengah kondisi pandemi yang saat ini menyerang hampir seluruh belahan dunia. (Anjuni)