Category: Graduate Stories

  • Sita Alfiyah: Turut berkontribusi untuk memajukan pendidikan di Indonesia dengan passion yang dimiliki

    Pada kesempatan ini, Sita Alfiyah yang mana merupakan salah satu alumni dari program pendidikan Magister Psikologi Profesi bidang Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2011 membagikan kisahnya selama berkuliah di Fakultas Psikologi UGM serta perjalanan kariernya di dunia pendidikan. Selama menjalankan pendidikan magister profesinya, alumnus yang lulus pada tahun 2013 ini tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi juga banyak pengalaman berharga yang mendukung kariernya saat ini. Misalnya saja melalui kegiatan perkuliahan ia terdorong untuk selalu disiplin, profesional, aktif dan kritis dalam berpikir, bereksplorasi dan beradaptasi yang sangat mendukung kariernya saat ini. Tidak hanya itu, program praktik kerja profesi yang ia lakukan juga mengajarkannya untuk mampu memahami masalah para siswa serta mengajarkannya untuk meningkatkan pengelolaan diri sehingga kini tidak terkejut ketika menghadapi kendala serupa di dunia kerja.

    Salah satu kegiatan perkuliahan yang ia ikuti, memantik ketertarikannya untuk bergabung dengan lembaga pemangku kepentingan bidang pendidikan sebagai upaya untuk turut andil membangun pendidikan di Indonesia. Berangkat dari pemikirannya tersebut, ia kemudian bergabung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil. Bergabung dengan instansi ini mewujudkan keinginannya untuk mampu menerapkan ilmu psikologi di dunia pendidikan dan secara tidak langsung berkontribusi dalam memajukan pendidikan Indonesia.

    Perjuangannya untuk berkontribusi di dunia pendidikan dimulai saat ia bergabung di Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini, kemudian menjadi bagian dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Melalui perjalanan dinas selama berkarier di Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, ia menjumpai berbagai permasalahan dalam satuan pendidikan terutama psikologis siswa yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu agar siswa daerah bisa mendapatkan pelayanan profesional psikologis secara cuma-cuma. Selanjutnya, Sita berupaya untuk melakukan langkah-langkah kecil dengan mendorong fasilitator di daerah dalam optimalisasi peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama.

    Pada awal pandemi Covid-19 lalu, Sita mendapatkan tugas baru di Pusat Penguatan Karakter sebagai seorang Analis Pendampingan Belajar di kelompok kajian konten penguatan karakter. Dalam tugasnya ini ia melakukan berbagai hal mulai dari memberikan masukan bahan ajar agar mudah dipahami, menyusun modul pelatihan dan buku pendidikan keluarga, membuat kegiatan edukasi kepada fasilitator pendidikan keluarga yang telah dilatih oleh direktoratnya yang terdahulu. Salah satu kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung adalah kegiatan psikoedukasi siswa SMA Negeri 10 Purworejo dengan media grup Whatsapp. Kegiatan psikoedukasi tersebut mendapat respon positif dari para siswa dan juga guru karena sifatnya yang mengedukasi serta memotivasi siswa untuk terus mengembangkan diri.

    Berdasarkan temuan di lapangan, Sita berfikir bahwa kondisi yang serupa bisa saja terjadi di sekolah lain dan belum tentu mendapatkan penanganan yang tepat. Dengan adanya kondisi ini, ia mengajak alumni melalui Paguyuban Alumni Magister Profesi Psikologi (PAMPsi) untuk bekerjasama memperluas kegiatan psikoedukasi yang sudah ia lakukan di SMA N 10 Purworejo ke sekolah-sekolah lainnya. Dengan mengantongi izin dari dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Jawa Tengah kegiatan Psikolog Masuk Sekolah (PSIMAS) dapat dilakukan di 12 sekolah dan selanjutnya dengan izin dari Gubernur Jawa Tengah yakni H. Ganjar Pranowo, S.H., M.IP. kegiatan ini dikembangkan ke sekolah-sekolah lainnya di Jawa Tengah hingga kini telah dilakukan di 80 sekolah mulai dari jenjang SMP, SMA, dan SMK.

    Proses yang ia tempuh beserta tim untuk mampu menjalankan program ini tidaklah mudah, terutama ketika ia harus mengorganisir anggota yang rata-rata adalah orang sibuk. Namun demikian, mengingat kembali harapan yang muncul dari PSIMAS yakni mendorong pengembangan diri dan membantu mengatasi permasalahan psikologis siswa secara mudah serta memfasilitasi alumni turut berperan mendukung kemajuan pendidikan Indonesia, kendala yang ada dapat diatasi. Selain itu, kondisi yang ada justru memotivasinya untuk melakukan segala upaya menjaga agar program ini terus berjalan.

    Perjalanan karier Sita mulai dari lulus sebagai seorang psikolog hingga saat ini tidaklah luput dari kendala dan tantangan, tetapi ia mampu mengatasinya dengan berusaha memaknai setiap peristiwa sebagai kesempatan belajar menjadi lebih baik. Selain itu, ia juga berprinsip bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan dan teruslah menembangkan potensi yang ada sehingga menjadi manfaat untuk orang lain tanpa perlu menghindari kendala tersebut maupun frustasi menghadapinya. Hal ini sejalan dengan ucapan salah satu dosen saat ia magister, “tidak perlu menguasai semua hal, tetapi fokuslah pada passion kita. Kita semua juga memiliki keterbatasan, tetapi kita bisa fokus untuk memilih apa yang kita suka dan mengembangkan diri, karena kalau kita suka maka tidak akan terasa berat”.

    Terlepas dari kendala yang ia alami, Sita menyampaikan bahwa ada banyak hal positif yang ia rasakan selama perjalanan kariernya ini. Berbagai pengalaman menyenangkan ia dapatkan ketika menjalani tugas ke daerah-daerah untuk melakukan bimbingan teknis, menjadi narasumber kegiatan, monitoring dan evaluasi serta masih banyak lagi. Berikut ini sebagian kecil dari pengalaman positif yang ia rasakan mulai dari menemukan praktik pendidikan yang bagus dan inspiratif, mengetahui kondisi pendidikan di daerah sekaligus menemukan dan mengerti permasalahan yang dihadapi satuan pendidikan di sana hingga pengalaman lain yang berkaitan dengan peningkatan wawasan budaya maupun hal yang tak terlupakan saat perjalanan menuju beberapa daerah.

    Sita juga menambahkan, meskipun bekerja di kementerian atau lembaga negara tidak selalu mendapat tugas yang 100% sesuai dengan kompetensi keilmuan psikologi, tetapi kita tidak perlu untuk menghindar karena sejatinya yang kita pelajari pasti memberikan manfaat. Ia juga membagikan beberapa saran bagi teman-teman mahasiswa ataupun alumni muda yang akan maupun sedang berkarier. Kita harus tetap semangat untuk memberikan kontribusi ilmu psikologi sesuai dengan passion yang kita miliki. Kita juga tidak perlu ragu untuk memulai apa yang diimpikan, mulai saja dahulu tanpa menunggu sempurna dan teruslah belajar agar kita dapat menjadi lebih baik lagi dan bermanfaat daripada sebelumnya. (Anjuni)

     

  • Laela Siddiqah: Membangun Biro Psikologi sebagai Sarana Mengabdi dan Berbagi

    Memulai pendidikan sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 1999 menjadi karunia dan kebahagiaan tersendiri bagi Laela Siddiqah. Meskipun sempat mengalami kendala pada tahun pertama perkuliahannya, alumnus yang kini menetap di Bontang, Kalimantan Timur ini tidak mudah menyerah dan terus berjuang. Melalui perjuangan tersebut ia tidak hanya mampu menyesuaikan dengan kehidupan perkuliahan tetapi juga mengukir beragam prestasi dan tetap aktif terlibat di kegiatan kemahasiswaan seperti Lembaga Mahasiswa Fakultas Psikologi. Salah satunya yaitu berkesempatan mendapatkan posisi tiga besar untuk skripsi yang ia tulis pada salah satu kompetisi penulisan ilmiah, yaitu Suwarsih Warnaen Award tahun 2004.

    Setelah menamatkan pendidikan Sarjana pada tahun 2004 dan bekerja beberapa waktu, Laela berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan Magister Profesi Psikologi dan lulus pada tahun 2009. Perjalanan yang ia lalui untuk menyelesaikan pendidikannya tidak mudah, terlebih dengan status long distance marriage (LDM). Namun demikian, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk kembali berprestasi. Seperti pada kesempatan sebelumnya, tugas akhir atau tesis yang ia susun mendapatkan juara dua pada Kompetisi Nasional Tesis Psikologi I tahun 2010, dan karyanya juga masuk ke jurnal.

    Lulus dengan berbagai pencapaian yang memuaskan, alumnus yang pernah menjadi asisten psikolog di Unit Konsultasi Psikologi (UKP) UGM ini melanjutkan hidupnya di Bontang Kalimantan Timur mengikuti lokasi pekerjaan sang suami. Pada saat itu, Laela yang mengetahui bahwa di daerah tersebut baru ada satu biro psikologi yang hari praktiknya terbatas, merasa tergerak untuk mendirikan sebuah biro yang nantinya dapat memberikan layanan kepada masyarakat secara lebih maksimal. Bersama kedua temannya, Laela berhasil mendirikan Lembaga Psikologi Insan Cita pada bulan Januari 2010 sebagai wadah untuk mengamalkan ilmu dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

    Mendirikan lembaga psikologi di daerah pada saat itu tidaklah mudah. Laela beserta dua orang temannya mendapatkan tantangan yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Dengan masih terbatasnya biro psikologi yang ada di Bontang, maka tidak heran jika literasi masyarakat mengenai kesehatan mental dan juga peran psikolog masih rendah. Berkenaan dengan hal tersebut, tantangan pertama yang dihadapi pada tahun pertama mendirikan lembaga psikologi adalah mengenalkan siapa itu psikolog, layanan psikologis, serta menjalin kerja sama dengan beragam instansi di sekitar Bontang. Selain itu, karena kurangnya pemahaman mengenai layanan psikologis, cukup banyak klien yang tidak berkenan membayar sesuai standar harga pelayanan.

    Dari segi administrasi dan internal, biro yang ia dirikan juga menghadapi kendala tersendiri berkaitan dengan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) maupun persaingan pasar tenaga kerja dengan perusahaan besar di kota tersebut. Dengan kondisi SDM seperti itu, mau tidak mau tim dari biro psikologi yang digawanginya ini sering kali mengalami pergantian anggota. Tidak hanya itu, terbatasnya SDM terutama sarjana psikologi juga menjadi tantangan tersendiri karena program asistensi yang biasanya dapat dilakukan oleh sarjana psikologi juga terhambat. Sedangkan tantangan lain yang harus ia hadapi hingga saat ini adalah mengembangkan diri dan terus berinovasi untuk menguatkan kapasitas diri dalam memberikan layanan psikologis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

    Asam garam yang telah ia rasakan selama menjalankan dan mengembangkan Lembaga Psikologi Insan Cita sebelas tahun terakhir mengajarkannya banyak hal terutama terkait dengan kendala atau tantangan yang disebutkan sebelumnya. Laela menjelaskan beberapa hal yang ia terapkan maupun tanamkan dalam pikirannya. Pertama, dalam menyelesaikan kendala yang berkaitan dengan masyarakat dan lingkungan, kita perlu memiliki pemahaman mengenai kondisi dan juga karakteristik dari lingkungan kita. Dengan begitu kita dapat menentukan strategi yang tepat dan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Kedua, di samping harus memiliki harapan yang ideal, memiliki kesediaan hati untuk menerima hasil yang berbeda dari harapan kita juga salah satu hal penting yang harus ditekankan kepada diri sendiri. Hal ini dikarenakan proses mengembangkan biro itu tidaklah mudah dan perjalanannnya penuh dengan lika-liku. Ketiga, kemampuan untuk menyesuaikan beberapa aspek tanpa menghilangkan poin-poin mendasar dalam pelayanan psikologis juga perlu untuk diterapkan. Hal tersebut dikarenakan saat berpraktik di lapangan, kita akan berinteraksi dan bekerja sama dengan berbagai orang dengan karakteristik maupun latar belakang yang berbeda. Keempat, dari dalam diri sendiri juga perlu bersedia untuk selalu belajar dan terbuka dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Kelima dan menjadi kunci adalah miliki dan ingatlah alasan yang kuat dan mendasar dari terbentuknya biro ini beserta tujuannya. Adanya alasan yang kuat dan tujuan yang besar ini akan menjadi modal untuk selalu bangkit setiap kali jatuh atau merasa belum mencapai harapan yang ingin diwujudkan.

    Meskipun perjalanannya dalam berpraktik dan mengembangkan biro psikologi menghadapi beragam kendala dan tantangan, ia tetap dapat menikmati profesi saat ini dengan dibuktikan beragam pengalaman berharga yang ia dapatkan selama ini. Sebagai seorang psikolog, hal yang menyenangkan bagi Laela ketika berpraktik adalah melihat perkembangan positif pada diri klien. Selain itu, adanya respon dan mendapatkan kesan baik dari klien atas layanan yang ia berikan juga meninggalkan kesan tersendiri bagi Laela. Bukan hanya itu, beragam kegiatan pemberdayaan masyarakat maupun kegiatan sosial yang ia lakukan bersama dengan berbagai instansi juga memunculkan kebahagiaan tersendiri untuknya. Misalnya saja melalui kesempatan bergabung dengan satuan tugas (satgas) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di bawah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berecana Kota Bontang, staf ahli di LK3 di bawah Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat serta menjadi pengurus PKK Kota Bontang. Tidak berhenti pada kegiatan-kegiatn tersebut, pengalaman menyenangkan juga ia dapatkan dari beragam aktivitas di bidang pendidikan seperti turut aktif menggagas Kelas Inspirasi dan mengajak masyarakat dari beragam kalangan untuk menjadi relawan pengajar di sekolah-sekolah pinggiran. Selain menjadi salah satu sumber kebahagiaan selama berpraktik, beragam kegiatan yang ia lakukan ini juga menjadi sarana yang baik untuk Leala mengenal dan dikenal masyarakat luas.

    Selain aktif dengan praktik dan beragam kegiatan kemasyarakatan, Laela juga menjadi bagian dari Psikolog Masuk Sekolah (Psimas) yang digagas tahun 2020 oleh Paguyuban Alumni Magister Profesi Psikologi (PAMPSI). Ia bergabung dengan kegiatan ini dengan tujuan untuk meningkatkan kontribusinya di dunia pendidikan serta menjadi sarana untuk menggaungkan serta menguatkan peran psikolog baik di lingkungan masyarakat maupun instansi pendidikan. Kegiatan Psimas ini juga menjadi sarana baginya untuk selalu terhubung dengan rekan sejawat dari berbagai daerah yang mana juga dapat menjadi ajang berdiskusi serta kolaborasi dalam menyusun strategi baru untuk praktik. Tidak hanya itu, kegiatan-kegiatan yang ia lakukan bersama Psimas juga menyenangkan dan memberikan penyegaran serta membangkitkan semangat untuk terus berbagi di tengah pandemi.

    Tidak hanya membagikan pengalamannya sejak menjalani perkuliahan hingga kini telah sukses dengan praktik yang ia jalankan, Laela juga membagikan beberapa pesan untuk teman-teman mahasiswa maupun alumni muda, terutama para calon psikolog. Apabila memiliki keinginan untuk membangun biro psikologi setamat pendidikan Magister Profesi Psikologi terutama di daerah, maka harus memantapkan hati serta milikilah alasan yang kuat. Selain itu, di tengah perkembangan teknologi yang tidak terbendung, gunakanlah teknologi yang tersedia saat ini dengan baik untuk promosi, interaksi, kolabolasi dan masih banyak lagi. Tidak lupa untuk mempelajari karakteristik lingkungan agar dapat menentukan strategi yang tepat kedepannya. Pesan terakhir adalah mulailah dan terus berjalan serta berbuat, karena setiap perjalanan menjadi “isi” dan menjadi penguat untuk biro yang didirikan. (Anjuni)

  • Nur Zidny Ilmanafia: Memadukan Teknologi dan Psikologi Untuk Meningkatkan Pelayanan Konsumen

    Nur Zidny Ilmanafia atau yang kerap disapa dengan nama Zidny merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berkarier sebagai User Experience (UX) Researcher. Alumni angkatan 2014 ini mengisi masa perkuliahhannya dengan beragam kegiatan di dalam maupun di luar fakultas untuk mengembangkan minat dan bakat yang ia miliki. Beberapa aktivitas yang ia ikuti seperti bergabung dengan Center of Indigenous and Cultural Psychology (CICP) yang membawa Zidny masuk dan berkecimpung di dunia penelitian. Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama menjadi bagian dari CICP yakni mengikuti konferensi dan melakukan presentasi hasil penelitian di Asian Association Indigenous Cultural Psychology (AAICP) yang dilaksanakan pada tahun 2015 lalu. Tidak hanya itu, ia yang juga aktif di Sanggar Kesenian Aceh UGM (SAKA UGM) mendapatkan kesempatan untuk mengikuti dan meraih juara dalam kompetisi folklore internasional di Italia. Keikutseraannya pada kegiatan tersebut memberikan wadah tersendiri bagi Zidny untuk mengasah keterampilan project management yang bermanfaat hingga kini.

    Alumni yang mengawali karier sebagai freelance researcher di salah satu e-commerce terbesar di Indonesia ini membagikan perjalanannya hingga kini berkecimpung di dunia UX research. Zidny mengisahkan bahwa ia memiliki minat yang tinggi terhadap hal-hal yang berbau teknologi sedari ia duduk di bangku sekolah. Minatnya tersebut terus tumbuh dan saat memasuki dunia perkuliah ia memiliki ketertarikan tersendiri mengenai keterkaitan antara perilaku manusia dengan teknologi. Sejalan dengan minat yang ia miliki, aktivitas yang ia lakukan di kampus juga turut mengasah keterampilannya dalam melakukan penelitan. Pada akhir masa perkuliahan hingga setelah kelulusannya, Zidny mulai tertarik untuk memasuki bekerja di perusahaan dengan basis teknologi. Meskipun memiliki minat dan passion yang kuat di bidang tersebut, keterbatasan informasi saat itu membuatnya kesulitan dalam menemukan celah untuk bergabung di perusahaan teknologi. Berbekal rasa ingin tahu yang tinggi dan keuletan yang ia miliki, Zidny menemukan peluang kerja di e-commerce dengan latar belakang pendidikan psikologi yang ada yakni di sebagai UX researcher. Area kerja seorang UX researcher merupakan ranah yang banyak menerapkan prinsip-prinsip psikologi dalam praktiknya.

    Seiring tumbuhnya perusahaan berbasis teknologi di seluruh penjuru dunia dan tidak terkecuali Indonesia, kebutuhan akan UX researcher ini juga terus meningkat, akan tetapi tidak banyak yang mengetahui bidang tersebut. Berdasarkan pengalaman yang ia miliki, Zidny membagikan beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan seorang UX researcher. Ia menceritakan bahwa pada dasarnya, tugas utama yang ia miliki adalah melakukan riset baik kuantitatif maupun kualitatif dalam rangka mengumpulkan insight tentang perilaku dan kebutuhan pengguna yang mana insight tersebut digunakan sebagai acuan dalam proses mendesain suatu produk.

    Alumni yang saat ini bekerja di Jabar Digital Service ini menggambarkan beberapa perbedaan pekerjaan sebagai UX researcher di dua area yang berbeda, instansi pemerintahan, dan e-commerce. Perbedaan utama dan mendasar adalah orientasi pekerjaan yang saling bertolak belakang. Perusahaan swasta lebih bertujuan pada peningkatan bisnis dan profit, sedangkan instansi milik pemerintah proyek-proyeknya cenderung berorientasi untuk memfasilitasi digitalisasi penyelenggaraan pemerintahan dan layanan masyarakat. Hal lain yang berbeda ialah familiaritas instansi terhadap human-centered design, yang mana perusahaan-perusahaan swasta sudah lebih dahulu mengedepankan pendekatan tersebut, sedangkan pendekatan ini merupakan hal baru bagi instansi pemerintahan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena memerlukan penyesuaian dalam penerapannya, terutama berkaitan dengan pengembangan produk pada kondisi atau kebijakan yang berubah-ubah.

    Meskipun terkendala akan proses desain produk yang belum mengedepankan prinsip human-centered, ia menjelaskan bahwa ada beberapa cara yang biasa digunakan dalam mempromosikan empati terhadap pengguna. Pertama, dengan cara konsisten memberikan valuable insight berdasarkan hasil riset yang menunjukkan kesulitan yang dialami pengguna.  Tahap selanjutnya, ia akan mengeksplorasi cara-cara kreatif dalam mengkomunikasikan hasil riset agar lebih mudah dipahami oleh pihak-pihak terkait. Selain itu, ia juga berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam memberikan ide serta solusi untuk memecahkan permasalahan yang ada. Meskipun pekerjaan ini memiliki challenge tersendiri, Zidny mengungkapkan bahwa pengalaman positif juga ia alami seperti berkembangnya kesadaran mengenai pentingnya curiousity dan penggunaan data sebagai dasar pengambilan keputusan, selalu adaptif, kreatif dan juga inovatif. Selain itu, Zidny juga merasakan bahwa secanggih apapun teknologi yang dikembangkan tidak bisa optimal jika tidak memperhatikan pengguna.

    Akhir-akhir ini, mulai banyak perusahaan maupun instansi yang mulai menyadari betapa pentingnya orientasi dan riset terhadap pengguna. Kondisi ini dijelaskan Zidny membuat kebutuhan akan UX researcher berkembang pesat. Mengingat tingginya kebutuhan di lapangan, Zidny memberikan beberapa saran bagi para alumni muda maupun teman-teman mahasiswa yang ingin bergelut di bidang yang sama. Pertama-tama, kita harus bangga sebagai lulusan Fakultas Psikologi UGM karena banyak ilmu yang sangat relevan untuk diterapkan dalam bidang UX research, seperti aspek kognitif maupun sosial yang mempengaruhi perilaku pengguna. Selanjutnya kita dapat membangun portfolio yang relevan melalui perlombaan, komunitas, seminar hingga kegiatan magang. Meskipun belum memiliki portfolio yang relevan, kita dapat mengembangkan portfolio melalui studi kasus UX dari suatu aplikasi. Selain pengetahuan yang berkaitan dengan perilaku konsumen, Zidny juga menyarankan agar selalu membuka wawasan dan mempelajari ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan bisnis dan perkembangan teknologi. Hal tersebut bertujuan agar daya saing kita di pasar pekerja tetap tinggi dan senantiasa menjadi problem solver yang mengeimbangkan desirability (keinginan dan kebutuhan pengguna), feasibility (dapat dimplementasikan secara teknis), dan viability (menguntungkan secara bisnis). (Anjuni)

  • Ariana Marastuti: Memutar Haluan dari Aktivis menjadi Akademisi

    Alumni yang kerap disapa Ariana ini merupakan alumni angkatan 1996 yang saat ini berkarier sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketika masih menjadi mahasiswa, ia sudah tertarik dan aktif dengan beragam aktivitas di organisasi maupun pergerakan mahasiswa. Salah satu organisasi yang diikuti Ariana adalah Himpunan Mahasiswa Islam atau yang sering disingkat HMI. Luasnya jejaring yang ia miliki saat mahasiswa membuatnya semakin kritis serta menyadari pentingnya pendekatan lintas keilmuan untuk memahami dan menyelesaikan permasalahan sosial. Tidak hanya aktif di dunia organisasi kemahasiswaan serta sebagai aktivis, Ariana juga mengikuti berbagai kompetisi penelitian tingkat lokal dan nasional yang menjadi langkah awal untuk mencoba menggunakan berbagai pendekatan dalam ilmu psikologi untuk memahami permasalahan dan mencari upaya penyelesainnya. Kolaborasi dengan mahasiswa dari latar belakang keilmuan yang berbeda sudah di mulai sejak penelitian saat mahasiswa tersebut, seperti melakukan kajian psikologi arsitektur dengan mahasiswa arsitek untuk mendesain lingkungan industri kecil.

    Beragam aktivitas tersebut menjadikan alumni anggota senat mahasiswa ini sudah terbiasa bekerja sama dengan organisasi maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Yogyakarta. Dengan pengalaman yang ia miliki, Ariana kemudian bergabung dengan LSM yang berfokus pada isu-isu sosial di masyarakat. Keterlibatan dalam dunia aktivis isu-isu sosial tersebut akhirnya mendekatkan Ariana pada isu-isu gender yang sangat lekat dengan isu sosial, terutama hak asasi perempuan serta kekerasan berbasis gender.  Setelah berkarier di Institut Hak Asasi Perempuan (IHAP) sebagai peneliti dan pengorganisasi di masyaraat, ia semakin yakin untuk membangun di dunia LSM dan menjadikan kajian gender sebagai fokus utamanya. Setelah beberapa waktu mengabdi di bidang tersebut, Ariana melamar beasiswa dan melanjutkan studi di Washington University di St. Louis Amerika Serikat dengan tujuan untuk memperdalam ilmu yang dimiliki serta mendukung tujuannya mewujudkan masyarakat yang adil gender.

    Setelah menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan gelar Master of Social Work, ia kembali lagi menekuni dunia LSM dan tetap aktif melakukan penelitian tentang gender. Namun, suatu waktu ia berfikir untuk menjadi staf pengajar atau dosen karena kecitaannya dengan dunia penelitian dan pengajaran, seperti keinginannya sejak lama. Dengan menjadi seorang dosen, ia memiliki kesempatan untuk memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat. Ia merasa bahwa ilmunya akan lebih bermanfaat ketika dia berbagi kepada khalayak yang lebih luas serta bisa membekali generasi muda untuk menjadi agen perubahan masyarakat di masa depan. Kesempatan berbagi tersebut dapat difasilitasi melalu proses pengajaran, penelitian, pelatihan, dan penguatan baik melalui mahasiswa di bangku perguruan tinggi.

    Perjalanan karier yang berubah dari seorang aktivis atau praktisi menjadi akademisi memberikan tantangan tersendiri bagi Ariana. Meskipun ada kemiripan antara aktivis dan akademisi, terdapat pula beragam tantangan yang harus ia hadapi. Misalnya saja seperti perubahan budaya di tempat kerja dari yang egaliter saat di LSM berubah menjadi lebih formal, terstruktur dan relasi yang lebih berjenjang di dunia ademik. Tidak hanya itu, sebagai seorang pegawai di lembaga universitas yang memiliki aturan yang lebih baku juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Meskipun demikian, ia mengungkapkan bahwa beragam tantangan baru yang muncul dari perubahan kariernya dapat ia atasi dengan cara selalu belajar dengan terbuka dan adaptif dalam mempelajari budaya baru, selalu mendengarkan masukan serta tidak malu untuk bertanya. Setelah menjadi staf pengajar, Ariana tidak begitu saja lepas dari dunia LSM. Ia tetap mampu berkontribusi dengan membantu dalam beragam aktivitas seperti kegiatan penguatan bagi komunitas, hingga memberikan penyuluhan dan training tentang gender di pemerintahan dan masyarakat.

    Sebagai seseorang yang sudah malang melintang di dunia aktivis maupun akademisi, Ariana berpesan kepada teman-teman mahasiswa mupun alumni muda terkait berkarier di kedua bidang tersebut. Bekerja dibidang apapun, baik LSM maupun akademisi, sama baiknya. Dunia praktisi tidak selalu jauh dari dunia akademisi, yang mana sebagai praktisi atau aktivis, individu tetap dituntut untuk selalu belajar dan memperbaharui pengetahuan seperti para akademisi. Hal tersebut menuntut siapapun yang terjun ke kedua ranah tersebut untuk terus tumbuh dan berkembang agar mampu bertahan dan berhasil di ranah yang dipilih. Ia juga menekankan bahwa baginya, bekerja bukan hanya perkara minat, ataupun sekedar membangun karir, namun juga tentang kontribusi yang diberikan individu yang bersangkutan bagi masyarakat. (Anjuni)

  • Nadya Permata: Menerapkan Ilmu Psikologi untuk Berdinamika dan Beradaptasi di Dunia Kerja

    Nadya Permata merupakan salah satu alumni yang terbilang aktif saat menjalani pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satu kegiatan kemahasiswaan yang diikuti adalah Keluarga Muslim Psikologi (KMP). Saat aktif di sana, alumni angkatan 2003 ini berkesempatan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat umum dan anak-anak, salah satunya adalah Nuansa. Dalam kegiatannya di Nuansa, ia mendapatkan berbagai ilmu dan pengalaman yang sangat berguna untuk kariernya saat ini, terutama berkaitan dengan pemasaran hingga fundraising. Tidak hanya itu, Nadya juga menemukan passion-nya di dunia marketing dan entrepreneurship melalui beragam pengalaman tersebut.

    Setelah menamatkan pendidikannya di Fakultas Psikologi UGM, berbekal minatnya di bidang marketing sekaligus adanya keinginan berkarier di dunia Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) seperti kebanyakan lulusan di tahun tersebut, ia memutuskan untuk melanjutkan kariernya di bidang ini. Nadya memilih mengawali kariernya di bidang perbankan dengan bergabung pada Officer Development Program (ODP) Bank Mandiri. Bergabung sebagai salah satu talent ODP, Nadya diberikan kesempatan untuk mempelajari hal baru dan hal-hal yang selama ini tidak pernah dipelajarinya, terutama berkaitan dengan dunia bisnis, hukum hingga keuangan. Menjalani masa tersebut selama satu tahun tersebut memanglah tidak mudah, tetapi dengan ilmu yang didapatkannya di Fakultas Psikologi UGM ia mampu beradaptasi, bertahan dan terus berkembang. Selepas masa trainee tersebut, ia ditempatkan di Lampung dan diminta untuk turun langsung di bidang yang sepenuhnya bisnis, bukan human resources seperti kebanyakan lulusan psikologi yang berkarier di dunia PIO.

    Menjalani karier selama hampir 13 tahun di dunia bisnis dan perbankan memang tidak membuatnya lepas begitu saja dari penerapan ilmu psikologi. Dengan jabatannya saat ini, yakni Kepala Cabang Bank Mandiri, ia banyak menerapkan ilmu PIO terutama organizational development. Dengan ilmu yang ia miliki tersebut, ia mampu mengatur timnya sehingga dapat bekerja dengan baik di tengah tuntutan dan ritme pekerjaan yang tinggi. Tidak hanya itu, dengan ilmu psikologi yang ia miliki, ia mampu memahami tim dan anggotanya juga beragam pandangan dan pemikiran yang dimiliki masing-masing individu dalam timnya tersebut.

    Seperti pekerja pada umumnya, ia juga mengalami berbagai kendala dalam bekerja, baik datang dari pekerjaan maupun kehidupan pribadinya. Pada tahun 2012, ia menemui kendala yang berkaitan erat dengan pembagian waktu antara pekerjaan dan keluarga. Nadya yang saat itu baru saja melahirkan putrinya yang premature harus mengahadapi pilihan untuk menemani sang putri untuk menjalani operasi jantung atau melanjutkan tugas belajar dari Bank Mandiri di Columbia University, yang mana kedua kesempatan tersebut sama berharganya. Meskipun sempat merasakan ini sebagai kendala dalam bekerja, ia tetap memilih sang anak dan keluarga menjadi prioritas utama dan meninggalkan kesempatan tugas belajar di luar negeri. Di saat memilih diantara kedua keputusan tersebut, ia meyakini bahwa “tidak apa-apa ketika tidak memiliki gelar yang tinggi, karena suatu saat pasti ada pengganti yang sesuai dan tidak harus mendapat hal yang sama dengan itu.” Dengan menghadapi kendala tersebut secara bijaksana dan dewasa, ia mampu menemani sang buah hati untuk menjalani pengobatannya dan tetap menjalani karier di Indonesia. Tidak hanya itu, keyakinan yang ia miliki akan adanya “pengganti” dari pengorbanan yang dilakukannya benar-benar membawa hasil yang manis. Ia memang melepaskan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan master, tetapi ia mendapat kesempatan lain dari Bank Mandiri untuk mengikuti beragam kegiatan termasuk 3 summer courses yang dilaksanakan di luar negeri. Dengan menjalani kursus tersebut, ia mendapatkan ilmu yang banyak serta tetap dapat berkontribusi bagi perusahaannya.

    Sebagai alumni yang telah berkarier lama dan memiliki pengalaman yang beragam di bidang PIO, Nadya memberikan beberapa pesan kepada para alumni muda maupun mahasiswa. Perjalan kehidupan yang beragam mengharuskan kita sebagai individu untuk memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Kemampuan ini menjadikan individu tidak mudah menggerutu maupun menyalahkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Selain itu, kemampuan adaptasi juga memudahkan individu untuk berfikir cepat terutama dalam mengambil langkah untuk menyesuaian dengan perubahan yang ada. Tidak hanya kemampuan adaptasi, pekerjaan dengan rasa positif dan diiringi dengan usaha juga menjadi hal yang diperlukan individu dalam menghadapi dunia saat ini, terutama di tengah kondisi pandemi yang saat ini menyerang hampir seluruh belahan dunia. (Anjuni)

  • Prabaswara Dewi: Bermula dari Proyek Psikososial, Kini Meraih Sukses di bidang People Development

    Menjalani pendidikan sarjana dan profesi di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) meninggalkan kesan tersendiri bagi Prabaswara Dewi atau yang sering disapa dengan panggilan DJ. Alumnus angkatan 1993 ini membagikan pengalaman yang sangat mengesankan selama ia menjalani masa pendidikan di Fakultas Psikologi. Ia mengaku bahwa jika diingat kembali masa-masa kuliahnya, semua merupakan pengalaman yang menyenangkan, meskipun pada masanya ia juga pernah merasa gugup dengan pengalamannya kala itu. Dari banyaknya pengalaman yang ada, keterlibatannya dalam proyek psikososial di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang dilakukan bersama dengan para dosen menjadi salah satu pengalaman yang tidak terlupakan untuknya. Melalui kegiatan tersebut, ia mencicipi peran sebagai trainer bagi para guru yang terdampak konflik kala itu. Pengalaman tersebut juga memberikan insight bagi DJ mengenai karier di bidang people development yang ia tekuni saat ini.

    Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, alumni yang kerap disapa dengan nama DJ ini sempat bergabung di LSM Lentera-Sahaja pada divisi Media Development. Keterlibatannya di divisi ini membuatnya keluar dari zona nyaman dan mengikuti kecepatan teman-teman yang proaktif dalam menjalani kegiatan, sehingga ia juga turut menjadi pibadi yang aktif dalam mengembangkan kegiatan di Lentera-Sahaja. DJ juga kembali ke dunia pendidikan dengan melanjutkan pendidikan profesi di Fakultas Psikologi UGM dengan fokus people development.

    Setelah DJ menamatkan pendidikan profesi, ia kemudian bergabung dengan sebuah perusahaan kosmetik tempatnya melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) saat ia menjalani pendidikan profesi. Mengawali karier di sebuah perusahaan yang terletak di Jakarta mungkin menjadi dambaan banyak fresh graduate, akan tetapi tidak dengan DJ. Ia justru merasa tidak betah dan selalu kembali ke Yogyakarta beberapa bulan pertama ia bekerja di Ibu kota. Berkat dukungan teman-teman dan relasi yang sangat baik dengan rekan satu angkatan di Fakultas Psikologi, ia mampu bertahan dan tetap melanjutkan kariernya di Jakarta hingga sekarang.

    Penguatan untuk manajemen tim Sales

    Setelah bekerja di perusahaan pertama, ia kemudian bergabung di Martha Tilaar Group hingga saat ini. Seperti pekerja pada umumnya, ia juga sempat mengalami rotasi dari bekerja di corporate-nya lalu ditempatkan di salah satu unit bisnis Martha Tilaar yakni Martina Berto. Tidak berselang lama, ia kembali ditarik ke perusahaan utama dan membantu Board of Directors (BOD) untuk memfasilitasi improvement project di area people and organizational development yang ada di unit-unit Martha Tilaar Group.

    Sebagai Corporate People and Organization Development Manager, DJ dihadapkan dengan tugas yang beragam dan selalu berubah sesuai kondisi lapangan. Dengan tugas-tugasnya itu, ia dituntut untuk selalu belajar terutama berkaitan dengan kondisi unit perusahaan yang harus ia tangani. Selain itu, ia juga harus bisa memahami perintah dari atasan kemudian menggali hal-hal yang dibutuhkan hingga menyampaikan hal-hal terkait proyek yang akan dilakukan dengan “bahasa” yang mudah dipahami oleh karyawan yang terlibat dalam proyek tersebut. Berkenaan dengan hal tersebut, ia juga diharuskan untuk memiliki kelenturan terutama dalam delivering tugas.

    Meskipun ia telah memiliki bekal ilmu dan segudang pengalaman, DJ juga sempat mengalami kegagalan dalam melaksanakan tugasnya. Misalnya saja ketika pelatihan pada suatu level karyawan yang tidak berjalan sesuai rencana karena pelatihan yang diberikan kurang tepat untuk kelompok karyawan tersebut, akan tetapi ketika diberikan kepada kelompok karyawan dengan tingkatan yang berbeda, pelatihan tersebut dapat berjalan lancar. Dengan pengalaman kegagalan tersebut, ia mencontohkan betapa pentingnya belajar dan memahami kelompok karyawan dan unit yang membutuhkan, sehingga intervensi yang diberikan tepat sasaran.

    Berkaitan dengan kegagalan, DJ membagikan cara yang ia lakukan untuk menghadapi kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa perasaan down memanglah wajar dan sebagai individu tetap berupaya untuk menerima kondisi tersebut apa adanya. Selain menerima kondisi tersebut, ketika ia merasa down, ia akan mengembalikan semuanya pada tujuan awal, sehingga dapat bangkit lagi dari perasaan down tersebut.

    Sebagai ketua Keluarga Alumni Psikologi Universitas Gadjah Mada (Kapsigama), DJ menitipkan pesan untuk teman-teman alumni muda dan para mahasiswa untuk bergabung dengan Kapsigama dengan mengisi Kapsigama Link. Keikutsertaan dalam organisasi tersebut akan memberikan efek positif tersendiri bagi para anggota, salah satunya adalah relasi dan rasa kekeluargaan yang jarang ditemukan di organisasi alumni lainnya. Selain itu, walaupun tidak diharapkan, apabila terjadi krisis atau bencana, Kapsigama dapat segera mendeteksi dan mendukung alumni yang berada pada lokasi krisis atau bencana tersebut. Dengan anggota yang tersebar di berbagai penjuru dunia, para anggota juga berkesempatan untuk mendapatkan enrichment yang tentunya akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. (Anjuni)

  • Indira Pratyaksa Yukthi: Menjadi Praktisi di Bidang Industri dan Organisasi Saat Ini

    Indira Pratyaksa Yukthi merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1995 yang saat ini menjabat sebagai Vice President Corporate Culture & Business Partner PT. Pertamina (Persero). Jurusan Psikologi dipilih Indira untuk ia tekuni karena beberapa pertimbangan, yakni jurusan Psikologi pada waktu itu belum terkenal dan menjadi jurusan favorit seperti saat ini, sehingga persaingan yang ada tidak akan lebih ketat daripada jurusan Akuntansi yang saat itu sedang naik daun. Tidak hanya itu, alumni yang berasal dari Dumai, Riau ini juga berfikir bahwa alumni psikologi akan memiliki peran strategis serta prospek kebutuhan alumni yang lebih tinggi di masa depan. Alumnus yang diterima melalui jalur Penjaringan Bibit Unggul Daerah (PBUD) ini mengaku menikmati proses perkuliahan, seperti mengikuti praktikum, yang memberikan wadah bagi Indira untuk mengasah kemampuan presentasi, persuasi, konseling juga mengembangkan networking.

     

    Setelah lulus studi sarjana, pada tahun 2000, Indira melanjutkan kuliah profesi Psikolog di Fakultas Psikologi UGM karena ia berkeinginan untuk menjadi seorang psikolog. Namun demikian rencana tersebut berubah ketika ia memilih bergabung dengan PT. Pertamina (Persero) pada tahun 2003 yang membawa Indira memulai kariernya sebagai praktisi di bidang Human Resources (HR). Bidang ini merupakan bidang yang berkaitan erat dengan ilmu Psikologi karena bersentuhan dengan sumber daya manusia, sehingga ia tetap menyukai kariernya tersebut. Menjadi praktisi HR tidak membuatnya terlepas begitu saja dari ranah akademik. Hal ini dibuktikan dari proyek yang pernah ia adakan bersama para dosen dari Fakultas Psikologi UGM. Proyek yang bertujuan untuk melakukan pemetaan kemampuan psikologis pekerja tersebut membuat Indira tetap belajar sekaligus bekerja dengan dosen Fakultas Psikologi UGM. Tidak hanya itu, menjadi praktisi di bidang HR juga membuatnya tetap mengaplikasikan berbagai pendekatan psikologi di dunia kerja hingga praktik-praktik ilmu psikologi, seperti menyiapkan alat tes untuk rekrutmen, merancang kamus kompetensi perilaku kepemimpinan, melakukan survey kepuasan pekerja, program konseling pekerja, dan lain sebagainya.

    Bekal ilmu dari bangku kuliah tidaklah cukup untuk menjadi praktisi yang baik di bidang Industri dan Organisasi maupun di bidang lainnya. Para pencari kerja harus mempertajam kemampuan industri dan organisasi terutama yang berkaitan dengan tempat kerja seperti memahami visi, misi, strategi maupun perencanaan bisnis, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hal tersebut bertujuan agar kebijakan terkait sumber daya manusia yang dibuat menjadi relevan dengan kebijakan perusahaan. Dalam menjalankan karier di bidang HR, mengembangkan networking internal maupun eksternal organisasi juga penting untuk dilakukan, karena melalui networking dapat mempermudah pekerjaan serta memaksimalkan hasil kerja.

    Sukses menjalani karier hingga mencapai jabatannya saat ini tidak lepas dari prinsip, motto serta nilai hidup yang dipegang teguh oleh Indira. Dalam menjalani pekerjaannya, Indira berprinsip untuk selalu memberikan yang terbaik bagi perusahaan, karena bekerja adalah ibadah. Sehingga dapat diibaratkan ketika atasan minta satu, saya usahakan memberi minimal dua atau lebih. Prinsip ini menjadi salah satu kunci keberhasilan karena terdapat kesungguhan, standar yang tinggi, berorientasi pada prestasi dan menjadi pekerja yang dapat diandalkan. Tidak hanya itu, ia juga memiliki nilai serta motto hidup untuk menjadi manusia yang berguna dan selalu memperbaiki diri, tidak menyia-nyiakan waktu, selalu bersyukur dan tidak pernah berhenti belajar.

    Dengan pengalaman yang banyak dan beragam, ia juga memberikan pesan bagi teman-teman alumni muda maupun mahasiswa dalam menghadapi kondisi saat ini maupun di masa yang akan datang. Pertama, setiap pencari kerja harus menentukan visinya sendiri yang kemudian diselaraskan dengan visi organisasi yang dituju, misalnya apakah seseorang telah sesuai dengan visi perusahaan? Kedua, berkaitan dengan tantangan dunia industri saat ini berada di situasi Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity (VUCA). Sebagai seorang talent di tengah kondisi VUCA ini, satu keahlian saja tidak dapat dirasa cukup, sehingga harus tetap belajar untuk mengembangkan berbagai keahlian, misalnya seperti pengalaman berorganisasi, kemampuan memimpin dan dipimpin, keahlian di bidang teknologi hingga kemampuan beradaptasi yang cepat. (Anjuni)

  • Rosalia Sulistyantari: Terus mengembangkan diri di tengah dunia yang semakin cepat berubah

    Rosalia Sulistyantari merupakan alumni angkatan 2007 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang saat ini tengah berkarier di Tokyo, Jepang. Selama menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi, alumni yang kerap disapa Rosalia ini aktif mengikuti beragam kegiatan, antara lain International Student Week in Ilmenau (ISWI) yang berlangsung selama 2 minggu di Ilmenau University of Technology, Jerman; program pertukaran mahasiswa selama satu semester di Fukuoka Women’s University, Jepang; Lomba Cerdas Cermat Psikologi se-Indonesia di Universitas Kristen Maranatha, dan juga kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan oleh Dikti.

    Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Rosalia bergabung di sebuah bank internasional yang berlokasi di Jakarta. Pada karier pertamanya, ia berkesempatan menjadi Management Trainee (MT) selama dua tahun. Sebagai seorang MT, Rosalia mendapatkan berbagai macam pelatihan di kelas, pelatihan daring, dan juga On the Job Training (OJT), ke beberapa departemen yang berbeda setiap enam bulan sekali. Setiap kali menyelesaikan OJT di sebuah departemen, ia harus mempresentasikan hasil dari OJT tersebut di depan Managing Committee. Setelah menyelesaikan masa MT, ia mendapatkan penempatan sebagai Asisten Manajer di Credit Risk Control Department dan menjalani karier di departemen tersebut selama beberapa tahun.

    Walaupun telah membangun karier di Jakarta, Rosalia masih memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan S2 dan juga mengembangkan karier di luar negeri. Setelah melakukan berbagai pertimbangan, akhirnya Rosalia memutuskan untuk menempuh Master in Business Administration (MBA) di sebuah universitas di Jepang. Pada tahun 2016, ia mengundurkan diri dari bank di mana ia bekerja saat itu dan memulai peran baru sebagai mahasiswa Program MBA dengan dukungan beasiswa penuh dari sebuah perusahaan Jepang. Di tengah jadwal kuliah, kerja paruh-waktu, dan berbagai kegiatan sosial yang padat, Rosalia tetap aktif melakukan job-seeking di Jepang. Usahanya ini berbuah hasil, ia mendapatkan tawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan konsultan IT, bahkan sebelum lulus dari Program MBA. Setelah mendapatkan gelar MBA, Rosalia memulai kariernya sebagai Associate Consultant di Enterprise Business Service Solutions (EBSS) yang berlokasi di Tokyo.

    Sebagai seorang konsultan IT, Rosalia harus siap ditugaskan ke berbagai proyek yang berbeda dan menghadapi klien dan juga tim dengan karakter yang berbeda pula. Misalnya saja pada proyek pertama yang dilakukannya, yakni Enterprise Resource Planning (ERP) System, kliennya adalah sebuah perusahaan yang berlokasi di Singapura dan rekanan yang turut terlibat adalah  sebuah perusahaan IT di India, sementara Rosalia sendiri berada di Jepang. Ia hanya mengunjungi klien di Singapura setiap tiga bulan sekali, sehingga harus menjalankan sebagian besar proyek secara jarak jauh. Saat ini proyek tersebut sudah selesai dan Rosalia mendapatkan proyek baru untuk klien domestik di Jepang.

    Meskipun pekerjaan yang dilakukannya saat ini cukup berbeda dari ranah psikologi, Rosalia mengakui bahwa selama menjalani kariernya, ia banyak menerapkan ilmu yang didapatkan selama belajar di Fakultas Psikologi UGM. Misalnya saja ilmu Psikologi Lintas Budaya yang ia terapkan ketika menghadapi tim yang berasal dari berbagai negara dan latar belakang yang berbeda, seperti pada proyek pertamanya.

    Dengan tugasnya saat ini, Rosalia menghadapi klien domestik, artinya ia harus mampu berkomunikasi dalam Bahasa Jepang dengan lancar dan memahami budaya kerja di perusahaan Jepang. Kedua hal tersebut masih kerap menjadi tantangan bagi dirinya. Meskipun demikian, Rosalia tetap berusaha untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang melalui komunikasi dengan rekan dan klien maupun belajar Bahasa Jepang di luar jam kerja.

    Sebagai seseorang yang sempat merasakan bekerja di Indonesia, Rosalia menceritakan perbedaan yang ia alami ketika bekerja di Indonesia dengan di Jepang. Berbeda dengan orang Indonesia yang sikap dan perilakunya tidak terlalu berubah saat bekerja dan saat di luar kerja, orang Jepang cenderung lebih serius dan kaku ketika bekerja. Namun, di luar jam kerja, mereka bisa berubah menjadi jauh lebih santai dan ramah. Karena itulah orang Jepang memiliki budaya untuk makan dan minum bersama selepas jam kerja untuk membangun komunikasi antar pribadi yang lebih baik.

    Berkenaan dengan merebaknya Covid-19 di Jepang, Rosalia menjalankan Work from Home sejak awal April lalu. Rosalia mengaku terkejut sekaligus senang karena ternyata hampir semua pekerjaan yang harus ia lakukan ternyata dapat diselesaikan dari rumah tanpa ada kendala yang cukup berarti. Untuk menghadapi tantangan selama masa pandemi, Rosalia melakukan berbagai aktifitas seperti rajin berkomunikasi melalui video call dengan keluarga dan teman untuk mencegah perasaan terisoliasi dan mengatur ruangan agar nyaman untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, berkurangnya aktivitas fisik membuat ia kini menjadi lebih rajin berolahraga daripada sebelumnya. Ia menyarankan untuk meluangkan waktu minimal 30 menit per hari untuk berolahraga, termasuk olahraga ringan seperti berjalan kaki. Menurut Rosalia, masa pandemi ini memberikan banyak kesempatan bagi dirinya untuk memikirkan kembali rencana jangka panjang maupun jangka pendek dalam hidupnya serta mengembangkan kemampuan baru yang akan berguna di masa depan.

    Sebagai alumni yang memiliki pengalaman kerja di dalam maupun di luar negeri, Rosalia membagikan beberapa masukan untuk teman-teman alumni muda maupun mahasiswa. Pertama, menyusun rencana hidup itu penting, namun jangan lupa untuk memberikan ruang untuk perubahan atau penyesuaian. Saat membuat rencana, sangat penting untuk mengeksplor semua kesempatan dan kemungkinan yang ada. Di tengah dunia yang memasuki era Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity (VUCA), individu dituntut untuk bisa menangkap peluang dan memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Saat ini, membangun karier di bidang yang non-linier merupakan sesuatu yang wajar. Selain mengembangkan kemampuan beradaptasi, individu juga perlu memilah informasi yang didapatkan agar tepat sesuai dengan kebutuhan dan memiliki kemauan untuk selalu belajar serta menambah skill yang berguna. Dengan demikian, individu dapat selalu mengembangkan diri sesuai dengan kondisi dunia saat ini, yang selalu berubah dan penuh dengan ketidakpastian. “Jangan takut mengeksplor hal baru. Keep challenging yourself.”  (Anjuni)

  • I Made Agus Dwiatmika: Berkarier Sepenuh Hati, Berintegritas dan Mengedepankan Keterbukaan Pemikiran

    I Made Agus Dwiatmika merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang berkarier di bidang Psikologi Industri dan Organisasi. Beragam pengalaman selama menjalani pendidikan di Fakultas Psikologi UGM membentuknya menjadi sosok seperti sekarang. Misalnya aktivitas perkuliahan hingga kegiatan majalah mahasiswa “Balairung” yang sangat padat melatihnya untuk dapat membagi waktu dengan tepat, sehingga kedua kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik. Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa dan tidak terkejut dengan padatnya aktivitas pekerjaan saat ini.

    Pada artikel profil alumni ini, alumni yang sering disapa Apong ini membagikan kisah perjalanan kariernya yang terbilang unik. Apong memulai karier sebagai staf di United Tractors di saat ia masih menunggu jadwal untuk sidang skripsi. Meskipun telah bekerja, dengan tekad kuat dan keyakinannya, Apong berhasil lulus dengan nilai memuaskan. Selang beberapa tahun bekerja sebagai human capital di United Tractors, Apong mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan tambang dengan posisi yang lebih menantang.

    Tidak lama berkarier di perusahaan tambang, Apong memutuskan untuk resign dan menjalankan konsultan yang berfokus pada sumber daya manusia bersama dengan rekan-rekannya. Melalui kegiatannya sebagai konsultan sekaligus menjalankan perusahaan sendiri, Apong berkesempatan untuk bekerja sama dengan satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berfokus pada resort management, yakni Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) yang dahulu bernama Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Pada kerja sama tersebut, ia akan memfasilitasi transformasi BTDC menjadi ITDC yang tidak hanya mengembangkan pariwisata di Kawasan Nusa Dua, tetapi berbagai area lain di Indonesia. Dengan kerja sama yang telah terjalin, Apong mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan ITDC untuk menjadi eksekutor pada transformasi tersebut. Meskipun demikian, ia tidak langsung bergabung dengan ITDC mengingat perbedaan budaya organisasi, budaya komunitas, serta area kerja yang tidak sama dengan area domisilinya saat itu. Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu, dibukanya kantor pusat ITDC di Jakarta, hingga dorongan serta dukungan dari orang-orang terdekat membuatnya bersedia untuk bergabung dan merasakan hal baru di perusahaan tersebut.

    Menjalani karier di sebuah perusahaan baru dengan budaya organisasi yang berbeda sudah pasti memberikan tantangan tersendiri, terlebih pada perusahaan yang sedang melakukan transformasi. Kondisi tersebut juga dialami oleh Apong yang sempat mengalami beragam kendala pada awal perjalanannya di perusahaan ini. Selain itu, ia yang merupakan sosok di ITDC baru ditugaskan untuk mengubah mindset hingga sistem kerja di ITDC, mendesain anggaran, dan mengatur arah dan tujuan organisasi ini khususnya dari sisi strategi human capital. Tugas yang diemban Apong dalam rangka transformasi tersebut mau tidak mau membuat sebagian merasa tidak nyaman, sehingga menjadi tantangan tersendiri untuknya. Beragam perbedaan dan juga tantangan tersebut sempat membuatnya merasa tidak sanggup dan hampir saja menyerah. Akan tetapi, ia tetap bertahan karena dukungan dari teman juga istrinya untuk tidak menyerah dengan keadaan yang ia alami saat itu.

    Menjalani kariernya yang selalu berada di area Human Capital sejak awal karier hingga saat ini tidak membuatnya menutup mata dengan perubahan-perubahan terkait pekerjaan maupun hal lain di sekitarnya. Misalnya saja seperti pada masa pandemik Covid-19 yang membuatnya harus berfikir secara terbuka dan adaptif. Selain open minded, hal lain yang harus dimiliki ketika bekerja adalah integritas serta bekerja dengan sepenuh hati. Perjalanan karier Apong dari staf hingga jabatannya saat ini mengajarkan bahwa integritas memiliki peran sangat penting bagi kesuksesan pekerja. Hal ini dikarenakan ia merasa bahwa semakin tinggi kewenangan yang dimiliki individu, maka semakin besar kesempatan untuk berperilaku tidak jujur. Dengan integritas yang ada, kita dapat dijauhkan dari perilaku tidak baik tersebut. Selain open minded dan berintegritas, bekerja sepenuh hati juga perlu untuk diterapkan. Hal tersebut dikarenakan ia menyadari bahwa hasil kerja maupun jabatan yang dimiliki dapat hilang dalam sekejap jika tidak dikerjakan sepenuh hati dengan tetap menjaga integritasnya.

    Berdasarkan kisah yang dibagikan oleh Apong, kita dapat mengetahui lika-liku perjalanan pendidikan serta karier selepas ia menamatkan pendidikan di Fakultas Psikologi UGM hingga kariernya saat ini. Melalui kisah tersebut kita dapat belajar banyak terkait dunia kerja. Misalnya saja memiliki pemikiran terbuka, menjaga integritas dan selalu bekerja sepenuh hati diperlukan agar kita dapat survive di dunia kerja. Tidak hanya itu, Apong juga menyampaikan bahwa dalam bekerja, kita tetap perlu mengikuti minat kita dan juga mempertimbangkan idealisme di dalam diri kita. (Anjuni)

  • Ajeng Septiana Widianingrum: Living the Life to the Fullest dengan Memberikan Kontribusi bagi Masyarakat

    Ajeng Septiana Widianingrum merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berkarier di bidang Human Resource (HR). Alumni yang kerap disapa Ajeng ini membagikan pengalaman kerja dibidang HR di sebuah organisasi social, khususnya di bidang community development. Pada artikel-artikel terdahulu memang telah banyak dibahas beragam alumni dengan pekerjaan di bidang HR maupun humanitarian, tetapi belum ada artikel yang membahas karier HR di dalam sebuah organisasi sosial. Dengan demikian, kisah perjalanan karier Ajeng sangat menarik untuk kita bahas pada artikel profil alumni karena memberikan contoh kepada kita mengenai area kerja HR yang luas, salah satunya di organisasi sosial.

    Sebelum menjalani kariernya di dunia sosial, alumni yang memiliki beragam pengalaman di dunia rekrutmen ini sempat bergabung dengan salah satu perusahaan di sektor privat. Alumni yang dahulunya bergabung dengan Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST) ini memilih untuk keluar dari sebuah perusahaan multinasional dan mengikuti kegiatan sosial. Kegiatan sosial tersebut adalah Indonesia Mengajar, yang mana ia bergabung sebagai Pengajar Muda dengan penempatan di Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Bergabung dengan kegiatan tersebut rupanya memberikan perspektif baru bagi Ajeng dalam melihat makna kehidupan, yakni hidup akan lebih bermakna ketika hal yang kita lakukan membawa manfaat bagi masyarakat. Bukan hanya itu, pengalaman yang ia dapatkan selama menjadi pengajar di area 3T menjadi titik balik kehidupan terutama dalam mencari pekerjaan.

    Setelah ia menyelesaikan masa tugas sebagai Pengajar Muda di Indonesia Mengajar, ia memiliki keyakinan akan 3 hal yang perlu dipegang dalam mencari pekerjaan yakni pekerjaan tersebut harus dapat mengembangkan intelektualitas, memberikan kestabilan finansial serta tetap memberikan dampak positif bagi masyarakat. Bukan hanya itu, ia mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya dan juga tetap memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dengan demikian ia memilih untuk berkarier sebagai HR di organisasi sosial. Sebuah area kerja yang tetap memberinya kesempatan untuk dapat berkontribusi, meskipun tidak turun dan bersentuhan secara tidak langsung dengan masyarakat. Kontribusi tersebut diberikan melalui pemilihan, pendampingan, pelatihan, hingga pengembangan kapasitas para relawan atau fasilitator lapangan yang akan turun langsung di tengah masyarakat.

    Bekerja sebagai staf Human Resource di organisasi sosial memang tidak berbeda jauh dengan pekerjaannya terdahulu di perusahaan. Ajeng menjelaskan bahwa pada dasarnya area Human Resource itu masih cenderung sama, yakni menjalankan fungsi perekrutan, seleksi, pengembangan resource, dan branding organisasi. Perbedaan yang mendasar tetap terlihat di antara kedua organisasi tersebut. Perbedaan yang ada berupa nilai dan tujuan organisasi, serta individu atau kelompok yang menjadi sasaran perekrutan, sistem perekrutan hingga pengembangan anggota. Menurutnya, pada organisasi sosial, kelompok yang menjadi sasaran untuk perekrutan adalah kelompok-kelompok yang di dalamnya banyak atau bahkan khusus relawan. Strategi perekrutannya juga berbeda dari perekrutan pada umumnya, misalnya tidak membuat pengumuman lowongan di situs-situs umum pencari kerja daring, akan tetapi melalui kanal-kanal komunitas pekerja social dan situs pencari kerja khusus pekerja sosial, serta melakukan sistem asesmen langsung. Ia kini juga sedang mengembangkan talent pool khusus untuk pekerja sosial. Dengan demikian, organisasi mendapatkan individu yang sesuai dengan keperluan dan mendukung program-program pengembangan masyarakat yang akan dilakukan. Bukan hanya itu, sebagai orang yang berkarier sebagai HR di organisasi sosial, ia juga bertugas untuk melakukan manajemen relawan yang biasanya bekerja sama dengan organisasi maupun relawan-relawan lain. Meskipun demikian, pekerjaan yang ia lakukan tidak hanya berfokus pada pengembangan individu maupun resource yang dimiliki organisasinya. Ajeng menyebutkan bahwa hal lain yang ia kerjakan pada kariernya saat ini adalah mencari strategi yang tepat agar masyarakat umum maupun instansi-instansi lain mau membuka mata mengenai isu-isu kemanusiaan yang diangkat oleh organisasinya.

    Menjalani pekerjaan yang Ia sukai bukan berarti Ajeng tidak menemui kendala dalam menjalaninya, terlebih di tengah pandemi Covid-19. Seperti para pekerja pada umumnya, berkatian dengan himbauan untuk bekerja dari rumah dan melakukan physical distancing, membuat Ajeng beserta tim harus kritis dan kreatif untuk menemukan cara yang tepat agar pekerjaan mereka tetap berjalan. Beberapa inovasi telah diterapkan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, misalnya saja mengubah sistem rekrutmen yang bisanya menerapkan Direct Assessment harus dimediasi teknologi. Namun tidak semua kegiatan dapat dilakukan secara efektif melalui media teknologi, seperti pelatihan intensif bagi relawan yang akan diterjunkan ke lapangan beberapa waktu ke depan yang belum tahu apakah efek pelatihan daring akan memberikan hasil yang sama dengan pelatihan tatap muka langsung.

    Berdasarkan pengalamannya, Ajeng memberikan saran kepada kita untuk merefleksikan minat kita. Dengan merefleksi dan mendalami minat tersebut kita menjadi lebih tahu dan mendapatkan lebih banyak exposure terkait bidang yang kita sukai. Dengan demikian, kita tidak ragu-ragu dengan hal maupun bidang yang diminati. Selain itu, dengan mendalami minat yang dimiki dapat membukan kesempatan kita untuk medapatkan lebih banyak pengalaman yang sesuai dengan minat kita tersebut. (Anjuni)