Author: ocia.psikologi

  • Prabaswara Dewi: Bermula dari Proyek Psikososial, Kini Meraih Sukses di bidang People Development

    Menjalani pendidikan sarjana dan profesi di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) meninggalkan kesan tersendiri bagi Prabaswara Dewi atau yang sering disapa dengan panggilan DJ. Alumnus angkatan 1993 ini membagikan pengalaman yang sangat mengesankan selama ia menjalani masa pendidikan di Fakultas Psikologi. Ia mengaku bahwa jika diingat kembali masa-masa kuliahnya, semua merupakan pengalaman yang menyenangkan, meskipun pada masanya ia juga pernah merasa gugup dengan pengalamannya kala itu. Dari banyaknya pengalaman yang ada, keterlibatannya dalam proyek psikososial di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang dilakukan bersama dengan para dosen menjadi salah satu pengalaman yang tidak terlupakan untuknya. Melalui kegiatan tersebut, ia mencicipi peran sebagai trainer bagi para guru yang terdampak konflik kala itu. Pengalaman tersebut juga memberikan insight bagi DJ mengenai karier di bidang people development yang ia tekuni saat ini.

    Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, alumni yang kerap disapa dengan nama DJ ini sempat bergabung di LSM Lentera-Sahaja pada divisi Media Development. Keterlibatannya di divisi ini membuatnya keluar dari zona nyaman dan mengikuti kecepatan teman-teman yang proaktif dalam menjalani kegiatan, sehingga ia juga turut menjadi pibadi yang aktif dalam mengembangkan kegiatan di Lentera-Sahaja. DJ juga kembali ke dunia pendidikan dengan melanjutkan pendidikan profesi di Fakultas Psikologi UGM dengan fokus people development.

    Setelah DJ menamatkan pendidikan profesi, ia kemudian bergabung dengan sebuah perusahaan kosmetik tempatnya melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) saat ia menjalani pendidikan profesi. Mengawali karier di sebuah perusahaan yang terletak di Jakarta mungkin menjadi dambaan banyak fresh graduate, akan tetapi tidak dengan DJ. Ia justru merasa tidak betah dan selalu kembali ke Yogyakarta beberapa bulan pertama ia bekerja di Ibu kota. Berkat dukungan teman-teman dan relasi yang sangat baik dengan rekan satu angkatan di Fakultas Psikologi, ia mampu bertahan dan tetap melanjutkan kariernya di Jakarta hingga sekarang.

    Penguatan untuk manajemen tim Sales

    Setelah bekerja di perusahaan pertama, ia kemudian bergabung di Martha Tilaar Group hingga saat ini. Seperti pekerja pada umumnya, ia juga sempat mengalami rotasi dari bekerja di corporate-nya lalu ditempatkan di salah satu unit bisnis Martha Tilaar yakni Martina Berto. Tidak berselang lama, ia kembali ditarik ke perusahaan utama dan membantu Board of Directors (BOD) untuk memfasilitasi improvement project di area people and organizational development yang ada di unit-unit Martha Tilaar Group.

    Sebagai Corporate People and Organization Development Manager, DJ dihadapkan dengan tugas yang beragam dan selalu berubah sesuai kondisi lapangan. Dengan tugas-tugasnya itu, ia dituntut untuk selalu belajar terutama berkaitan dengan kondisi unit perusahaan yang harus ia tangani. Selain itu, ia juga harus bisa memahami perintah dari atasan kemudian menggali hal-hal yang dibutuhkan hingga menyampaikan hal-hal terkait proyek yang akan dilakukan dengan “bahasa” yang mudah dipahami oleh karyawan yang terlibat dalam proyek tersebut. Berkenaan dengan hal tersebut, ia juga diharuskan untuk memiliki kelenturan terutama dalam delivering tugas.

    Meskipun ia telah memiliki bekal ilmu dan segudang pengalaman, DJ juga sempat mengalami kegagalan dalam melaksanakan tugasnya. Misalnya saja ketika pelatihan pada suatu level karyawan yang tidak berjalan sesuai rencana karena pelatihan yang diberikan kurang tepat untuk kelompok karyawan tersebut, akan tetapi ketika diberikan kepada kelompok karyawan dengan tingkatan yang berbeda, pelatihan tersebut dapat berjalan lancar. Dengan pengalaman kegagalan tersebut, ia mencontohkan betapa pentingnya belajar dan memahami kelompok karyawan dan unit yang membutuhkan, sehingga intervensi yang diberikan tepat sasaran.

    Berkaitan dengan kegagalan, DJ membagikan cara yang ia lakukan untuk menghadapi kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa perasaan down memanglah wajar dan sebagai individu tetap berupaya untuk menerima kondisi tersebut apa adanya. Selain menerima kondisi tersebut, ketika ia merasa down, ia akan mengembalikan semuanya pada tujuan awal, sehingga dapat bangkit lagi dari perasaan down tersebut.

    Sebagai ketua Keluarga Alumni Psikologi Universitas Gadjah Mada (Kapsigama), DJ menitipkan pesan untuk teman-teman alumni muda dan para mahasiswa untuk bergabung dengan Kapsigama dengan mengisi Kapsigama Link. Keikutsertaan dalam organisasi tersebut akan memberikan efek positif tersendiri bagi para anggota, salah satunya adalah relasi dan rasa kekeluargaan yang jarang ditemukan di organisasi alumni lainnya. Selain itu, walaupun tidak diharapkan, apabila terjadi krisis atau bencana, Kapsigama dapat segera mendeteksi dan mendukung alumni yang berada pada lokasi krisis atau bencana tersebut. Dengan anggota yang tersebar di berbagai penjuru dunia, para anggota juga berkesempatan untuk mendapatkan enrichment yang tentunya akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. (Anjuni)

  • Indira Pratyaksa Yukthi: Menjadi Praktisi di Bidang Industri dan Organisasi Saat Ini

    Indira Pratyaksa Yukthi merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1995 yang saat ini menjabat sebagai Vice President Corporate Culture & Business Partner PT. Pertamina (Persero). Jurusan Psikologi dipilih Indira untuk ia tekuni karena beberapa pertimbangan, yakni jurusan Psikologi pada waktu itu belum terkenal dan menjadi jurusan favorit seperti saat ini, sehingga persaingan yang ada tidak akan lebih ketat daripada jurusan Akuntansi yang saat itu sedang naik daun. Tidak hanya itu, alumni yang berasal dari Dumai, Riau ini juga berfikir bahwa alumni psikologi akan memiliki peran strategis serta prospek kebutuhan alumni yang lebih tinggi di masa depan. Alumnus yang diterima melalui jalur Penjaringan Bibit Unggul Daerah (PBUD) ini mengaku menikmati proses perkuliahan, seperti mengikuti praktikum, yang memberikan wadah bagi Indira untuk mengasah kemampuan presentasi, persuasi, konseling juga mengembangkan networking.

     

    Setelah lulus studi sarjana, pada tahun 2000, Indira melanjutkan kuliah profesi Psikolog di Fakultas Psikologi UGM karena ia berkeinginan untuk menjadi seorang psikolog. Namun demikian rencana tersebut berubah ketika ia memilih bergabung dengan PT. Pertamina (Persero) pada tahun 2003 yang membawa Indira memulai kariernya sebagai praktisi di bidang Human Resources (HR). Bidang ini merupakan bidang yang berkaitan erat dengan ilmu Psikologi karena bersentuhan dengan sumber daya manusia, sehingga ia tetap menyukai kariernya tersebut. Menjadi praktisi HR tidak membuatnya terlepas begitu saja dari ranah akademik. Hal ini dibuktikan dari proyek yang pernah ia adakan bersama para dosen dari Fakultas Psikologi UGM. Proyek yang bertujuan untuk melakukan pemetaan kemampuan psikologis pekerja tersebut membuat Indira tetap belajar sekaligus bekerja dengan dosen Fakultas Psikologi UGM. Tidak hanya itu, menjadi praktisi di bidang HR juga membuatnya tetap mengaplikasikan berbagai pendekatan psikologi di dunia kerja hingga praktik-praktik ilmu psikologi, seperti menyiapkan alat tes untuk rekrutmen, merancang kamus kompetensi perilaku kepemimpinan, melakukan survey kepuasan pekerja, program konseling pekerja, dan lain sebagainya.

    Bekal ilmu dari bangku kuliah tidaklah cukup untuk menjadi praktisi yang baik di bidang Industri dan Organisasi maupun di bidang lainnya. Para pencari kerja harus mempertajam kemampuan industri dan organisasi terutama yang berkaitan dengan tempat kerja seperti memahami visi, misi, strategi maupun perencanaan bisnis, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hal tersebut bertujuan agar kebijakan terkait sumber daya manusia yang dibuat menjadi relevan dengan kebijakan perusahaan. Dalam menjalankan karier di bidang HR, mengembangkan networking internal maupun eksternal organisasi juga penting untuk dilakukan, karena melalui networking dapat mempermudah pekerjaan serta memaksimalkan hasil kerja.

    Sukses menjalani karier hingga mencapai jabatannya saat ini tidak lepas dari prinsip, motto serta nilai hidup yang dipegang teguh oleh Indira. Dalam menjalani pekerjaannya, Indira berprinsip untuk selalu memberikan yang terbaik bagi perusahaan, karena bekerja adalah ibadah. Sehingga dapat diibaratkan ketika atasan minta satu, saya usahakan memberi minimal dua atau lebih. Prinsip ini menjadi salah satu kunci keberhasilan karena terdapat kesungguhan, standar yang tinggi, berorientasi pada prestasi dan menjadi pekerja yang dapat diandalkan. Tidak hanya itu, ia juga memiliki nilai serta motto hidup untuk menjadi manusia yang berguna dan selalu memperbaiki diri, tidak menyia-nyiakan waktu, selalu bersyukur dan tidak pernah berhenti belajar.

    Dengan pengalaman yang banyak dan beragam, ia juga memberikan pesan bagi teman-teman alumni muda maupun mahasiswa dalam menghadapi kondisi saat ini maupun di masa yang akan datang. Pertama, setiap pencari kerja harus menentukan visinya sendiri yang kemudian diselaraskan dengan visi organisasi yang dituju, misalnya apakah seseorang telah sesuai dengan visi perusahaan? Kedua, berkaitan dengan tantangan dunia industri saat ini berada di situasi Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity (VUCA). Sebagai seorang talent di tengah kondisi VUCA ini, satu keahlian saja tidak dapat dirasa cukup, sehingga harus tetap belajar untuk mengembangkan berbagai keahlian, misalnya seperti pengalaman berorganisasi, kemampuan memimpin dan dipimpin, keahlian di bidang teknologi hingga kemampuan beradaptasi yang cepat. (Anjuni)

  • Alumni Sharing Session: Melakukan Eksplorasi untuk Menemukan Minat dan Bidang Kerja yang Sesuai

    Pengen Ngobrol menjadi tempat untuk berbagi pengalaman mengenai karier alumni dari berbagai bidang yang bertujuan untuk memberikan insight terkait pilihan karier yang ada bagi para alumni muda, mahasiswa maupun calon mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada episode pertama ini diangkat tema mengenai passion dengan judul “Menentukan Karir dan Minat di Bidang Psikologi”. Acara yang dibuka dengan sambutan dari Ibu Yopina Galih Pertiwi, S.Psi., M.A., Ph.D. selaku Kepala Office of Cooperation, International Affairs, and Alumni (OCIA) berjalan selama 2 jam yang dimulai pukul 15.00 hingga 17.00 WIB. Pada episode pertama yang dilaksanakan tanggal 8 Agustus ini menghadirkan 2 orang alumni sebagai pembicara, yakni Acintya Ratna Priwati, S.Psi., M.A. dan Diandra Pramumardani, S.Psi.

    Kedua narasumber tersebut membagikan pengalamannya dalam perjalanan menemukan minat hingga menjalani karier mereka saat ini. Sebagai seorang dosen Fakultas Psikologi UGM dan seorang peneliti di bidang Psikologi Sosial, alumni yang kerap disapa Acin tersebut memberikan kisah singkat mengenai cara ia menemukan passion-nya. Acin menceritakan bahwa selama berkuliah di Fakultas Psikologi UGM, ia memiliki kesempatan untuk mengeksporasi setiap bidang yang ada di Psikologi melalui kegiatan perkuliahan maupun kegiatan-kegiatan lain. Kesempatan eksplorasi tersebut membuat ia paham akan minatnya. Tidak hanya itu, program Kuliah Kerja Nyata atau KKN yang diikutinya juga menjadi titik balik tersendiri bagi Acin untuk menemukan passion-nya di bidang sosial terutama dalam kaitannya dengan masyarakat. Selain itu, kesempatan untuk menjadi asisten kelas saat ia menjalani pendidikan magister psikologi juga memberikan insight bahwa proses mengajar itu menyenangkan dan berhasil mengarahkannya hingga saat ini menjadi salah satu dosen aktif di Fakultas Psikologi UGM. Selain berprofesi sebagai seorang dosen, Acin juga berkarier sebagai seorang peneliti. Melalui penelitian, ia juga turut berpartisipasi dalam penyusunan kebijakan-kebijakan yang akan berdampak bagi masyarakat.

    Tidak jauh berbeda dari Acin, Diandra juga menceritakan pengalamannya yang sangat menarik dalam menemukan minatnya. Diandra yang saat ini menjabat sebagai Talent Development di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri), ternyata menemukan minatnya di bidang Industri dan Organisasi pada akhir masa pendidikan sarjananya. Minatnya akan dunia Human Resources diawali dengan prgram pertukaran pelajar yang ia ikuti di Kyunghee University, Korea Selatan. Pada program tersebut, ia mengambil tiga mata kuliah yang salah satunya adalah business administration yang memberikan insight akan apa minatnya yang sebenarnya, terutama di bidang Industri dan Organisasi. Setelah kembali ke Indonesia, Diandra mengikuti program magang di salah satu bank untuk mengeksplor lebih dalam lagi mengenai minatnya di bidang Industri dan Organisasi.

    Sebagai program yang berbentuk talkshow, Pengen Ngobrol tidak hanya memberikan materi dari pembicara, peserta juga dapat berinteraksi dengan memberikan pertanyaan bagi kedua narasumber tersebut. Pada sesi tanya jawab tersebut, dijelaskan lebih mendalam terkait beberapa topik yang ditanyakan oleh peserta. Salah satunya tentang pengaruh pengalaman berorganisasi terhadap individu di dalam dunia kerja. Kedua narasumber tersebut menjelaskan bahwa pengalaman berorganisasi mengajarkan individu untuk mempelajari hal baru yang sangat relevan dengan dunia kerja, seperti kepemimpinan, kemampuan mengatur waktu, hingga lebih fleksibel dalam menghadapi dunia kerja. Selain itu, melalui sesi tersebut narasumber juga memberikan beberapa saran terkait dengan perjalanan karier maupun menemukan passion. Keduanya menyampaikan bahwa sebagai individu, kita tidak boleh cepat merasa puas, harus selalu belajar, serta membuka pandangan terhadap dunia. Selain itu, kita juga harus bersabar dalam menemukan minat dalam bidang tertentu, karena hal tersebut cukup memakan waktu, menuntut kita untuk banyak mengeksplorasi, dan yang pasti no pain no gain.

    Selain menghadirkan Acin dan Diandra sebagai pembicara pada episode pertamanya, program Pengen Ngobrol tersebut tidak langsung berakhir. Pengen Ngobrol selanjutnya akan dilaksanakan pada akhir pekan ini, yakni pada tanggal 22 Agustus 2020, dengan melanjutkan tema yang telah diangkat pada episode pertama. Pada episode dua, pembicara yang akan mengisi talkshow ini adalah salah satu alumni muda yang saat ini tengah melanjutkan pendidikan di Negeri Paman Sam. Ia akan membagikan pengalamannya mengenai perubahan karier dan keputusannya untuk melanjutkan pendidikan setelah ia memiliki pekerjaan tetap. Jangan lewatkan rangkaian kegiatan Pengen Ngobrol yang akan menyuguhkan pembicara-pembicara yang menarik dan tentunya akan memberikan insight bagi teman-teman mahasiswa maupun alumni muda dalam menghadapi perjalanan pasca masa perkuliahan. (Anjuni)

  • Rosalia Sulistyantari: Terus mengembangkan diri di tengah dunia yang semakin cepat berubah

    Rosalia Sulistyantari merupakan alumni angkatan 2007 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang saat ini tengah berkarier di Tokyo, Jepang. Selama menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi, alumni yang kerap disapa Rosalia ini aktif mengikuti beragam kegiatan, antara lain International Student Week in Ilmenau (ISWI) yang berlangsung selama 2 minggu di Ilmenau University of Technology, Jerman; program pertukaran mahasiswa selama satu semester di Fukuoka Women’s University, Jepang; Lomba Cerdas Cermat Psikologi se-Indonesia di Universitas Kristen Maranatha, dan juga kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan oleh Dikti.

    Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Rosalia bergabung di sebuah bank internasional yang berlokasi di Jakarta. Pada karier pertamanya, ia berkesempatan menjadi Management Trainee (MT) selama dua tahun. Sebagai seorang MT, Rosalia mendapatkan berbagai macam pelatihan di kelas, pelatihan daring, dan juga On the Job Training (OJT), ke beberapa departemen yang berbeda setiap enam bulan sekali. Setiap kali menyelesaikan OJT di sebuah departemen, ia harus mempresentasikan hasil dari OJT tersebut di depan Managing Committee. Setelah menyelesaikan masa MT, ia mendapatkan penempatan sebagai Asisten Manajer di Credit Risk Control Department dan menjalani karier di departemen tersebut selama beberapa tahun.

    Walaupun telah membangun karier di Jakarta, Rosalia masih memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan S2 dan juga mengembangkan karier di luar negeri. Setelah melakukan berbagai pertimbangan, akhirnya Rosalia memutuskan untuk menempuh Master in Business Administration (MBA) di sebuah universitas di Jepang. Pada tahun 2016, ia mengundurkan diri dari bank di mana ia bekerja saat itu dan memulai peran baru sebagai mahasiswa Program MBA dengan dukungan beasiswa penuh dari sebuah perusahaan Jepang. Di tengah jadwal kuliah, kerja paruh-waktu, dan berbagai kegiatan sosial yang padat, Rosalia tetap aktif melakukan job-seeking di Jepang. Usahanya ini berbuah hasil, ia mendapatkan tawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan konsultan IT, bahkan sebelum lulus dari Program MBA. Setelah mendapatkan gelar MBA, Rosalia memulai kariernya sebagai Associate Consultant di Enterprise Business Service Solutions (EBSS) yang berlokasi di Tokyo.

    Sebagai seorang konsultan IT, Rosalia harus siap ditugaskan ke berbagai proyek yang berbeda dan menghadapi klien dan juga tim dengan karakter yang berbeda pula. Misalnya saja pada proyek pertama yang dilakukannya, yakni Enterprise Resource Planning (ERP) System, kliennya adalah sebuah perusahaan yang berlokasi di Singapura dan rekanan yang turut terlibat adalah  sebuah perusahaan IT di India, sementara Rosalia sendiri berada di Jepang. Ia hanya mengunjungi klien di Singapura setiap tiga bulan sekali, sehingga harus menjalankan sebagian besar proyek secara jarak jauh. Saat ini proyek tersebut sudah selesai dan Rosalia mendapatkan proyek baru untuk klien domestik di Jepang.

    Meskipun pekerjaan yang dilakukannya saat ini cukup berbeda dari ranah psikologi, Rosalia mengakui bahwa selama menjalani kariernya, ia banyak menerapkan ilmu yang didapatkan selama belajar di Fakultas Psikologi UGM. Misalnya saja ilmu Psikologi Lintas Budaya yang ia terapkan ketika menghadapi tim yang berasal dari berbagai negara dan latar belakang yang berbeda, seperti pada proyek pertamanya.

    Dengan tugasnya saat ini, Rosalia menghadapi klien domestik, artinya ia harus mampu berkomunikasi dalam Bahasa Jepang dengan lancar dan memahami budaya kerja di perusahaan Jepang. Kedua hal tersebut masih kerap menjadi tantangan bagi dirinya. Meskipun demikian, Rosalia tetap berusaha untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang melalui komunikasi dengan rekan dan klien maupun belajar Bahasa Jepang di luar jam kerja.

    Sebagai seseorang yang sempat merasakan bekerja di Indonesia, Rosalia menceritakan perbedaan yang ia alami ketika bekerja di Indonesia dengan di Jepang. Berbeda dengan orang Indonesia yang sikap dan perilakunya tidak terlalu berubah saat bekerja dan saat di luar kerja, orang Jepang cenderung lebih serius dan kaku ketika bekerja. Namun, di luar jam kerja, mereka bisa berubah menjadi jauh lebih santai dan ramah. Karena itulah orang Jepang memiliki budaya untuk makan dan minum bersama selepas jam kerja untuk membangun komunikasi antar pribadi yang lebih baik.

    Berkenaan dengan merebaknya Covid-19 di Jepang, Rosalia menjalankan Work from Home sejak awal April lalu. Rosalia mengaku terkejut sekaligus senang karena ternyata hampir semua pekerjaan yang harus ia lakukan ternyata dapat diselesaikan dari rumah tanpa ada kendala yang cukup berarti. Untuk menghadapi tantangan selama masa pandemi, Rosalia melakukan berbagai aktifitas seperti rajin berkomunikasi melalui video call dengan keluarga dan teman untuk mencegah perasaan terisoliasi dan mengatur ruangan agar nyaman untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, berkurangnya aktivitas fisik membuat ia kini menjadi lebih rajin berolahraga daripada sebelumnya. Ia menyarankan untuk meluangkan waktu minimal 30 menit per hari untuk berolahraga, termasuk olahraga ringan seperti berjalan kaki. Menurut Rosalia, masa pandemi ini memberikan banyak kesempatan bagi dirinya untuk memikirkan kembali rencana jangka panjang maupun jangka pendek dalam hidupnya serta mengembangkan kemampuan baru yang akan berguna di masa depan.

    Sebagai alumni yang memiliki pengalaman kerja di dalam maupun di luar negeri, Rosalia membagikan beberapa masukan untuk teman-teman alumni muda maupun mahasiswa. Pertama, menyusun rencana hidup itu penting, namun jangan lupa untuk memberikan ruang untuk perubahan atau penyesuaian. Saat membuat rencana, sangat penting untuk mengeksplor semua kesempatan dan kemungkinan yang ada. Di tengah dunia yang memasuki era Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity (VUCA), individu dituntut untuk bisa menangkap peluang dan memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Saat ini, membangun karier di bidang yang non-linier merupakan sesuatu yang wajar. Selain mengembangkan kemampuan beradaptasi, individu juga perlu memilah informasi yang didapatkan agar tepat sesuai dengan kebutuhan dan memiliki kemauan untuk selalu belajar serta menambah skill yang berguna. Dengan demikian, individu dapat selalu mengembangkan diri sesuai dengan kondisi dunia saat ini, yang selalu berubah dan penuh dengan ketidakpastian. “Jangan takut mengeksplor hal baru. Keep challenging yourself.”  (Anjuni)

  • Alumni Angkatan 1995 Bersama Inpsyration Menyelenggarakan Webinar Mengulas New Normal dari Perspektif Praktisi di Bidang Psikologi Industri dan Organisasi

    Pada hari sabtu tanggal 27 Juni 2020 lalu, Inpsyration berkolaborasi dengan alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1995 mengadakan webinar sebagai salah satu acara dalam rangkaian kegiatan menuju reuni ke-25 angkatan tersebut. Webinar yang dimulai pada pukul 13.00 WIB ini menghadirkan tiga orang pembicara yang juga alumni angkatan 1995, yakni AAA Indira Pratyaksa Yukhti Sutedja, S. Psi., Psikolog, Mohammad Akuntanto Wibowo, S., Psi., M.M. serta Carang Thombara Putra, S.Psi., M. M.

    Acara diawali dengan doa dan dilanjutkan dengan sambutan perwakilan Fakultas Psikologi UGM yakni Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik. Webinar yang dimoderatori oleh Zahwa Islami ini selanjutnya memasuki sesi materi yang terbagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama diisi oleh AAA Indira Pratyaksa Yukthi Sutedja, S.Psi., Psikolog yang kerap disapa dengan nama Ira. Pada kesempatan tersebut, Ira banyak menyampaikan peran Human Capital saat pandemik Covid-19 maupun periode new normal seperti saat ini. Ia menyampaikan beragam strategi yang dilakukan perusahaannya, yakni PT Elnusa, Tbk, dalam menghadapi situasi sekarang ini. Selain menyampaikan strategi perusahaan untuk perusahaan itu sendiri, ia juga memberikan contoh perubahan dari perusahaannya untuk mendukung para pekerja dalam menghadapi kondisi saat ini.

    Sesi kedua webinar ini dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Mohammad Akuntanto Wibowo, S.Psi., M.M. yang kerap disapa Bowo. Ia memberikan materi terkait perubahan-perubahan yang terjadi di dunia perbankan dengan judul “Riding the New Normal, Economic Outlook”. Dalam materi yang disampaikan ia menjelaskan langkah-langkah yang diambil perusahaan tempatnya bekerja saat ini untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Misalnya saja melakukan perubahan sistem dalam pelayanan pelanggan, pola transaksi, melindungi karyawan, dan lain sebagainya. Ia juga menjelaskan bahwa masa pandemi saat ini juga dapat dilihat secara positif, seperti perubahan perilaku pelanggan menjadi lebih banyak menggunakan transaksi cashless, memunculkan hobi dan minat baru, perubahan cara berbelanja hingga perencanaan perjalanan jangka panjang.

    Sesi materi yang terakhir diisi oleh Carang Thombara Putra, S.Psi., M.M. yang banyak menjelaskan perubahan yang terjadi karena Covid-19 di ranah industri dan organisasi. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya wacana new normal denan segala perubahan di dalamnya ini telah ada sejak lama, tetapi Covid-19 telah berhasil mengakselerasi pelaksanaannya. Carang menjelaskan bahwa terdapat 3 hal yang mengalami perubahan dalam new normal dari sisi industri dan organisasi, yakni pada sisi industri, pekerjaan, dan kompetensi yang dibutuhkan. Dengan perubahan yang ada tersebut, individu diharapkan mampu beradaptasi dengan cara bersiap diri, membuka perspektif, terbuka terhadap perubahan, serta mempelajari sesuatu yang baru.

    Acara terakhir pada kegiatan webinar ini adalah sesi tanya jawab. Pada sesi ini terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Pertanyaan pertama berkaitan dengan keterampilan yang harus dimiliki lulusan psikologi dalam menghadapi new normal di bidang industri organisasi. Pembicara menjelaskan bahwa selain pengetahuan yang didapatkan di bangku perkuliahan, diperlukan softskill untuk mendukung pengetahuan tersebut. Beberapa softskill yang mendukung seperti networking, kesiapan emosional untuk menghadapi perubahan, kemampuan beradaptasi, kesadaran terhadap bisnis, mau membagikan ilmu dan memiliki jiwa kepemimpinan. Pertanyaan selanjutnya terkait dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) selama masa pandemi. Ketiga pembicara menyatakan bahwa PHK merupakan pilihan paling akhir jika perusahaan tersebut memang tidak dapat bertahan di tengah kondisi ini. Pertanyaan terakhir mengenai cara mempertahankan produktivitas pada kondisi saat ini. pembicara menyatakan bahwa untuk mengetahui produktivitas diperlukan brieifing pagi dan sore hari, hingga pengecekan output maupun capaian kerja dan target perusahaan. Bagi pekerja, untuk menjaga produktivitas perlu mengelola kesehatan fisik maupun psikis. Pada perusahaan dilakukan beberapa strategi untuk tetap menjaga produktivitas secara umum, seperti mengubah cara pelayanan pelanggan.

    Sebelum memasuki bagian terakhir, ketiga pembicara membagikan saran dalam rangka memasuki periode new normal pasca pandemik Covid-19. Dalam menghadapi new normal, individu diharapkan mematuhi protokol kesehatan, berdamai dengan kondisi saat ini, mengatur kembali keuangannya, introspeksi, tetap produktif dan berfikir positif. Ditambahkan pula, dalam menjalani hidup saat ini diharapkan “jangan melihat keatas” agar kita tetap senantiasa bersyukur. Setelah semua dilaksanakan, kegiatan webinar ini diakhiri dengan foto bersama. (Anjuni)

  • I Made Agus Dwiatmika: Berkarier Sepenuh Hati, Berintegritas dan Mengedepankan Keterbukaan Pemikiran

    I Made Agus Dwiatmika merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang berkarier di bidang Psikologi Industri dan Organisasi. Beragam pengalaman selama menjalani pendidikan di Fakultas Psikologi UGM membentuknya menjadi sosok seperti sekarang. Misalnya aktivitas perkuliahan hingga kegiatan majalah mahasiswa “Balairung” yang sangat padat melatihnya untuk dapat membagi waktu dengan tepat, sehingga kedua kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik. Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa dan tidak terkejut dengan padatnya aktivitas pekerjaan saat ini.

    Pada artikel profil alumni ini, alumni yang sering disapa Apong ini membagikan kisah perjalanan kariernya yang terbilang unik. Apong memulai karier sebagai staf di United Tractors di saat ia masih menunggu jadwal untuk sidang skripsi. Meskipun telah bekerja, dengan tekad kuat dan keyakinannya, Apong berhasil lulus dengan nilai memuaskan. Selang beberapa tahun bekerja sebagai human capital di United Tractors, Apong mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan tambang dengan posisi yang lebih menantang.

    Tidak lama berkarier di perusahaan tambang, Apong memutuskan untuk resign dan menjalankan konsultan yang berfokus pada sumber daya manusia bersama dengan rekan-rekannya. Melalui kegiatannya sebagai konsultan sekaligus menjalankan perusahaan sendiri, Apong berkesempatan untuk bekerja sama dengan satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berfokus pada resort management, yakni Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) yang dahulu bernama Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Pada kerja sama tersebut, ia akan memfasilitasi transformasi BTDC menjadi ITDC yang tidak hanya mengembangkan pariwisata di Kawasan Nusa Dua, tetapi berbagai area lain di Indonesia. Dengan kerja sama yang telah terjalin, Apong mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan ITDC untuk menjadi eksekutor pada transformasi tersebut. Meskipun demikian, ia tidak langsung bergabung dengan ITDC mengingat perbedaan budaya organisasi, budaya komunitas, serta area kerja yang tidak sama dengan area domisilinya saat itu. Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu, dibukanya kantor pusat ITDC di Jakarta, hingga dorongan serta dukungan dari orang-orang terdekat membuatnya bersedia untuk bergabung dan merasakan hal baru di perusahaan tersebut.

    Menjalani karier di sebuah perusahaan baru dengan budaya organisasi yang berbeda sudah pasti memberikan tantangan tersendiri, terlebih pada perusahaan yang sedang melakukan transformasi. Kondisi tersebut juga dialami oleh Apong yang sempat mengalami beragam kendala pada awal perjalanannya di perusahaan ini. Selain itu, ia yang merupakan sosok di ITDC baru ditugaskan untuk mengubah mindset hingga sistem kerja di ITDC, mendesain anggaran, dan mengatur arah dan tujuan organisasi ini khususnya dari sisi strategi human capital. Tugas yang diemban Apong dalam rangka transformasi tersebut mau tidak mau membuat sebagian merasa tidak nyaman, sehingga menjadi tantangan tersendiri untuknya. Beragam perbedaan dan juga tantangan tersebut sempat membuatnya merasa tidak sanggup dan hampir saja menyerah. Akan tetapi, ia tetap bertahan karena dukungan dari teman juga istrinya untuk tidak menyerah dengan keadaan yang ia alami saat itu.

    Menjalani kariernya yang selalu berada di area Human Capital sejak awal karier hingga saat ini tidak membuatnya menutup mata dengan perubahan-perubahan terkait pekerjaan maupun hal lain di sekitarnya. Misalnya saja seperti pada masa pandemik Covid-19 yang membuatnya harus berfikir secara terbuka dan adaptif. Selain open minded, hal lain yang harus dimiliki ketika bekerja adalah integritas serta bekerja dengan sepenuh hati. Perjalanan karier Apong dari staf hingga jabatannya saat ini mengajarkan bahwa integritas memiliki peran sangat penting bagi kesuksesan pekerja. Hal ini dikarenakan ia merasa bahwa semakin tinggi kewenangan yang dimiliki individu, maka semakin besar kesempatan untuk berperilaku tidak jujur. Dengan integritas yang ada, kita dapat dijauhkan dari perilaku tidak baik tersebut. Selain open minded dan berintegritas, bekerja sepenuh hati juga perlu untuk diterapkan. Hal tersebut dikarenakan ia menyadari bahwa hasil kerja maupun jabatan yang dimiliki dapat hilang dalam sekejap jika tidak dikerjakan sepenuh hati dengan tetap menjaga integritasnya.

    Berdasarkan kisah yang dibagikan oleh Apong, kita dapat mengetahui lika-liku perjalanan pendidikan serta karier selepas ia menamatkan pendidikan di Fakultas Psikologi UGM hingga kariernya saat ini. Melalui kisah tersebut kita dapat belajar banyak terkait dunia kerja. Misalnya saja memiliki pemikiran terbuka, menjaga integritas dan selalu bekerja sepenuh hati diperlukan agar kita dapat survive di dunia kerja. Tidak hanya itu, Apong juga menyampaikan bahwa dalam bekerja, kita tetap perlu mengikuti minat kita dan juga mempertimbangkan idealisme di dalam diri kita. (Anjuni)

  • Ajeng Septiana Widianingrum: Living the Life to the Fullest dengan Memberikan Kontribusi bagi Masyarakat

    Ajeng Septiana Widianingrum merupakan salah satu alumni Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berkarier di bidang Human Resource (HR). Alumni yang kerap disapa Ajeng ini membagikan pengalaman kerja dibidang HR di sebuah organisasi social, khususnya di bidang community development. Pada artikel-artikel terdahulu memang telah banyak dibahas beragam alumni dengan pekerjaan di bidang HR maupun humanitarian, tetapi belum ada artikel yang membahas karier HR di dalam sebuah organisasi sosial. Dengan demikian, kisah perjalanan karier Ajeng sangat menarik untuk kita bahas pada artikel profil alumni karena memberikan contoh kepada kita mengenai area kerja HR yang luas, salah satunya di organisasi sosial.

    Sebelum menjalani kariernya di dunia sosial, alumni yang memiliki beragam pengalaman di dunia rekrutmen ini sempat bergabung dengan salah satu perusahaan di sektor privat. Alumni yang dahulunya bergabung dengan Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST) ini memilih untuk keluar dari sebuah perusahaan multinasional dan mengikuti kegiatan sosial. Kegiatan sosial tersebut adalah Indonesia Mengajar, yang mana ia bergabung sebagai Pengajar Muda dengan penempatan di Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Bergabung dengan kegiatan tersebut rupanya memberikan perspektif baru bagi Ajeng dalam melihat makna kehidupan, yakni hidup akan lebih bermakna ketika hal yang kita lakukan membawa manfaat bagi masyarakat. Bukan hanya itu, pengalaman yang ia dapatkan selama menjadi pengajar di area 3T menjadi titik balik kehidupan terutama dalam mencari pekerjaan.

    Setelah ia menyelesaikan masa tugas sebagai Pengajar Muda di Indonesia Mengajar, ia memiliki keyakinan akan 3 hal yang perlu dipegang dalam mencari pekerjaan yakni pekerjaan tersebut harus dapat mengembangkan intelektualitas, memberikan kestabilan finansial serta tetap memberikan dampak positif bagi masyarakat. Bukan hanya itu, ia mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya dan juga tetap memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dengan demikian ia memilih untuk berkarier sebagai HR di organisasi sosial. Sebuah area kerja yang tetap memberinya kesempatan untuk dapat berkontribusi, meskipun tidak turun dan bersentuhan secara tidak langsung dengan masyarakat. Kontribusi tersebut diberikan melalui pemilihan, pendampingan, pelatihan, hingga pengembangan kapasitas para relawan atau fasilitator lapangan yang akan turun langsung di tengah masyarakat.

    Bekerja sebagai staf Human Resource di organisasi sosial memang tidak berbeda jauh dengan pekerjaannya terdahulu di perusahaan. Ajeng menjelaskan bahwa pada dasarnya area Human Resource itu masih cenderung sama, yakni menjalankan fungsi perekrutan, seleksi, pengembangan resource, dan branding organisasi. Perbedaan yang mendasar tetap terlihat di antara kedua organisasi tersebut. Perbedaan yang ada berupa nilai dan tujuan organisasi, serta individu atau kelompok yang menjadi sasaran perekrutan, sistem perekrutan hingga pengembangan anggota. Menurutnya, pada organisasi sosial, kelompok yang menjadi sasaran untuk perekrutan adalah kelompok-kelompok yang di dalamnya banyak atau bahkan khusus relawan. Strategi perekrutannya juga berbeda dari perekrutan pada umumnya, misalnya tidak membuat pengumuman lowongan di situs-situs umum pencari kerja daring, akan tetapi melalui kanal-kanal komunitas pekerja social dan situs pencari kerja khusus pekerja sosial, serta melakukan sistem asesmen langsung. Ia kini juga sedang mengembangkan talent pool khusus untuk pekerja sosial. Dengan demikian, organisasi mendapatkan individu yang sesuai dengan keperluan dan mendukung program-program pengembangan masyarakat yang akan dilakukan. Bukan hanya itu, sebagai orang yang berkarier sebagai HR di organisasi sosial, ia juga bertugas untuk melakukan manajemen relawan yang biasanya bekerja sama dengan organisasi maupun relawan-relawan lain. Meskipun demikian, pekerjaan yang ia lakukan tidak hanya berfokus pada pengembangan individu maupun resource yang dimiliki organisasinya. Ajeng menyebutkan bahwa hal lain yang ia kerjakan pada kariernya saat ini adalah mencari strategi yang tepat agar masyarakat umum maupun instansi-instansi lain mau membuka mata mengenai isu-isu kemanusiaan yang diangkat oleh organisasinya.

    Menjalani pekerjaan yang Ia sukai bukan berarti Ajeng tidak menemui kendala dalam menjalaninya, terlebih di tengah pandemi Covid-19. Seperti para pekerja pada umumnya, berkatian dengan himbauan untuk bekerja dari rumah dan melakukan physical distancing, membuat Ajeng beserta tim harus kritis dan kreatif untuk menemukan cara yang tepat agar pekerjaan mereka tetap berjalan. Beberapa inovasi telah diterapkan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, misalnya saja mengubah sistem rekrutmen yang bisanya menerapkan Direct Assessment harus dimediasi teknologi. Namun tidak semua kegiatan dapat dilakukan secara efektif melalui media teknologi, seperti pelatihan intensif bagi relawan yang akan diterjunkan ke lapangan beberapa waktu ke depan yang belum tahu apakah efek pelatihan daring akan memberikan hasil yang sama dengan pelatihan tatap muka langsung.

    Berdasarkan pengalamannya, Ajeng memberikan saran kepada kita untuk merefleksikan minat kita. Dengan merefleksi dan mendalami minat tersebut kita menjadi lebih tahu dan mendapatkan lebih banyak exposure terkait bidang yang kita sukai. Dengan demikian, kita tidak ragu-ragu dengan hal maupun bidang yang diminati. Selain itu, dengan mendalami minat yang dimiki dapat membukan kesempatan kita untuk medapatkan lebih banyak pengalaman yang sesuai dengan minat kita tersebut. (Anjuni)

  • Novita Dewi Anjarsari: Tetap Bekerja Di Tengah Pandemi COVID-19 di Indonesia

    Pandemi CORONA Virus Disease 2019 (COVID-19) membawa dampak yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik mereka yang berada di garda depan maupun masyarakat pada umumnya. Terhitung sejak akhir bulan Maret 2020 lalu, berbagai instansi memberlakukan kebijakan Work from Home (WfH) maupun School from Home (SfH). Langkah ini diambil sebagai salah satu upaya untuk mengurangi penyebaran COVID-19 di tengah masyarakat. Salah satu alumni yang ikut menjalani WfH ini adalah Novita Dewi Anjarsari. Alumni yang kini bekerja sebagai Staf Tenaga Kependidikan (Tendik) sekaligus Psikolog di Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), bercerita bagaimana bertahan agar tetap produktif dan kreatif selama WfH.

    Alumni yang biasa disapa Anjar ini memang sudah aktif sejak masa pendidikan di tingkat Sarjananya, baik kegiatan di lingkungan kampus yang menunjang perkuliahan dan peningkatan soft skill maupun ragam aktivitas di luar kampus yang mampu memperluas jejaring serta pengalamannya. Beberapa kegiatan yang ia ikuti seperti bekerja part-time, menjadi asisten HIMPSI DIY, asisten UKP hingga mengikuti beragam konferensi internasional di dalam maupun di luar negeri. Pribadinya yang aktif dalam mengembangkan diri ini terbawa hingga ia memasuki dunia kerja di UKP Fakultas Psikologi UGM. Sejak masih kuliah, ia berprinsip “bekerja itu bukan sekadar mencari uang, tetapi juga untuk menyalurkan hobi dan minat, sehingga semakin bisa menikmati pekerjaan saat ini, sesulit apapun tantangan yang dihadapi.”

    Adaptasi yang cepat terhadap perubahan dan perlunya berdamai dengan ketidakpastian terhadap kondisi juga dirasakan oleh Anjar. Kebijakan WfH menuntutnya harus tetap aktif bekerja dengan menyesuaikan pada pola kerja yang benar-benar baru. Dalam istilahnya, semua kegiatan di-online-kan, sehingga otomatis tata laksana di setiap kegiatan pun menjadi berubah. Anjar tidak menampik bahwa ia sempat mengalami stres akibat perubahan-perubahan di masa pandemi ini. Pertama, kerja secara daring otomatis mendorongnya untuk beradaptasi secepat mungkin agar lebih mahir dalam menggunakan berbagai perangkat maupun ragam aplikasi pendukung serta mempelajari protokol/cara kerja online yang tepat sasaran dan sesuai dengan gaya kerjanya. Belum lagi, ia juga perlu setting mood dan membangun suasana nyaman selama WfH. Hal ini mampu ia hadapi dengan tetap memegang prinsip bahwa hidup itu sebuah perjalanan yang menjadikan seseorang bertumbuh menjadi lebih baik. Hidup ini tentang bagaimana menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan tantangan akan perubahan dan ketidakpastian. Terus belajar, bertahan, dan berpikir kreatif-inovatif, meski jalanan mendaki ataupun terasa curam adalah hal yang perlu dilakukan setiap harinya. Yang terpenting adalah menyelesaikan apa yang sudah mulai dengan usaha terbaik.

    Sebagai individu yang terbiasa berinteraksi dengan banyak orang, Anjar juga sempat merasa bosan dan cepat lelah karena harus bekerja sendirian di rumah. Terlebih, berinteraksi dengan orang lain mampu membantunya recharge energi, merilis emosi, dan berpikir lebih solutif di tengah aktivitasnya yang padat. Oleh karena itu, ia menggunakan waktu jeda kerjanya untuk menjalin interaksi dengan orang lain baik melalui telepon atau video call. Tak jarang, ia yang memulai untuk menyapa, menanyakan kabar sanak famili dan teman-temannya. Pada akhir pekan, ia juga lebih banyak berinteraksi dengan orang lain secara daring tanpa membahas perihal pekerjaan. Disamping memastikan keterhubungannya dengan keluarga maupun teman-temannya, Anjar juga mengisi jeda kerja dengan berbagai aktivitas pengembangan diri, seperti mengikuti pelatihan secara online, membuka forum diskusi/rapat secara online yang membahas tentang refleksi profesi/cara meningkatkan skill/sharing praktik agar bisa di-monitoring oleh psikolog senior. Ia juga bekerja sama dengan rekan sejawat lainnya untuk berbagi melalui fitur Live Instagram.

    Bagi rekan-rekan semua, Anjar juga membagikan kiat-kiat untuk menjalani WfH maupun SfH di saat pandemi COVID-19 seperti saat ini. Beberapa saran tersebut yakni,

    1. Rajin berjemur, jaga kesehatan, pola makan, dan pola tidur.
    2. Batasi dan saring informasi mengingat banjirnya informasi terkait pemberitaan COVID-19 dapat menimbulkan kecemasan.
    3. Mulai memfokuskan pada hal-hal sederhana yang bisa memunculkan kebahagiaan dengan cara yang sederhana namun Misalnya dengan melihat foto kenangan/gambar yang menenangkan, menikmati aroma therapy, mendengarkan podcast atau lagu yang membuat semangat, mandi dengan air hangat dan menggunakan sabun beraroma, menikmati teh hangat, dsb. Jika merasa lelah, jenuh, atau bosan, rehat sejenak.
    4. Berlatih untuk menerima perubahan saat ini sebagai proses yang harus dijalani. Ketidakpastian bisa dijadikan sebagai tantangan yang perlu dihadapi. Kita dapat bertahan dengan menemukan akivitas baru yang selama ini ingin dicoba namun belum dilakukan, seperti mencoba resep baru, membaca buku, dsb. Tentu sesuai dengan minat kita masing-masing.
    5. Memberikan perhatian dan waktu bagi orang terdekat untuk menjaga keharmonisan hubungan. Bagi yang sudah menikah, tentunya butuh cara untuk mengatur waktu berinteraksi dengan pasangan dan anak-anak. Inilah pentingnya memiliki ruang kerja sendiri serta membuat batasan yang jelas mengenai jam kerja dengan waktu untuk beraktivitas di rumah. Selanjutnya, memberi pengertian kepada mereka tentang jadwal selama WfH dan disiplin untuk menaatinya agar anggota keluarga pun tetap merasa diprioritaskan.
    6. Jika berbincang dengan orang lain mampu meringankan beban (sebagai media katarsis/rilis emosi), hal ini tentunya juga penting untuk dilakukan. Kita bisa membuat janji dan menyediakan waktu untuk sekadar bertukar kabar atau sharing tentang berbagai hal melalui telepon/video call.
    7. Menjaga kedekatan dengan Tuhan dengan cara mendoakan diri dengan “harapan terbaik” setiap kali selesai refleksi/ibadah di malam hari. Hal ini penting karena sekeras apapun kita berupaya, ada hal-hal yang hanya Tuhan-lah yang bisa menentukannya. Tugas kita adalah mengupayakan dengan usaha terbaik kemudian serahkan sisanya kepada Tuhan. (Anjuni)
  • Helmi Pamungkas: Menemukan Keberhasilan dan Aktualisasi Diri dengan Menikmati Alur Takdir

    Sudah selayaknya setiap orang mengejar mimpi dan cita-cita yang dimiliki. Sama halnya dengan Helmi Pamungkas, seorang alumni Fakultas Psikologi angkatan 2002, yang selalu berusaha untuk mencapai hal yang dicita-citakannya. Namun demikian, terkadang takdir membawa manusia berjalan diluar jalur yang sudah direncanakan dan tidak pernah terbayangkan. Alumni yang kerap disapa Helmi ini, mengawali jenjang pendidikan psikologi secara tidak sengaja di mana jurusan tersebut disarankan oleh temannya ketika ia bingung menentukan pilihan ketiga tes masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Pilihan pertama dan kedua adalah kedokteran karena memang keinginannya saat itu menjadi dokter. Dengan berbekal keyakinan dan ketekunan, perjalanan yang diawali dengan ketidaksengajaan ini berakhir dengan hal yang memuaskan yakni lulus sebagai seorang sarjana psikologi dengan status cumlaude. Bukan hanya itu, kemauan yang tinggi untuk selalu menikmati proses pendidikan sarjana dan meningkatkan kemampuan lainnya menghantarkan Helmi untuk mendapatkan beasiswa Tentara Nasional Indonesia (TNI) di penghujung masa studi sarjana. Ia mengatakan keinginan jadi TNI baru muncul setelah membaca poster Beasiswa TNI di Mading Fakultas, profesi yang jauh dari bayangannya ketika lulus sarjana yaitu menjadi Human Resource (HR) di perusahaan.

    Beasiswa TNI yang ia dapatkan memberikan peluang karier yang luas terutama dengan bergabung sebagai perwira di TNI Angkatan Darat (AD) juga sebagai insan psikologi di Dinas Psikologi Angkatan Darat (Dispsiad). Kesempatan yang datang dan pengalaman yang ia miliki mengenai keyakinan dan ketekunan mengajarkannya untuk menjalani ketentuan takdir tersebut. Menjalani kariernya saat ini bukan menghentikan pendidikannya, tetapi kian memupuk ketertarikan Helmi di dunia pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini dikarenakan TNI  selalu membuka kesempatan dan mendukung anggotanya untuk  mengembangkan diri terutama melalui pendidikan lanjutan. Kesempatan tersebut juga dirasakan oleh Helmi hingga ia berhasil mendapatkan beasiswa Kemhan dan menamatkan pendidikan Magister Profesi Psikologi Industri dan Organisasi di Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude. Selain itu, Dispsiad juga memberikan kesempatan kepada Helmi untuk menerapkan banyak ilmu psikologi dalam tugas yang beragam. Misalnya saja menerapkan ilmu-ilmu psikologi dalam kegiatan penyiapan, pengembangan, pemeliharaan, dan perawatan SDM di lingkungan TNI AD. Di luar tugas-tugas tersebut, Helmi bersama Dispsiad juga berkesempatan untuk melakukan asesmen psikologi, pelatihan, dan penelitian bekerja sama dengan berbagai instansi, organisasi dan universitas di luar TNI AD. Beberapa pengalaman unik yang juga ia alami sebagai seorang psikolog di dunia militer, yakni mengikuti penugasan-penugasan ke berbagai kegiatan baik di dalam maupun luar negeri.

    Meskipun kini Helmi berprofesi sebagai seorang psikolog di dunia militer, jiwa ilmuwan dan psikolog yang ada dalam dirinya masih hidup dan terus bertumbuh. Hal ini terlihat dari beragam kegiatan yang dilakukannya bersama tim untuk melakukan beragam penelitian, misi kemanusiaan, hingga mengikuti beragam konferensi untuk mempublikasikan temuannya, seperti mengikuti International Military Testing Association (IMTA) yang dilakukan di Kanada pada tahun 2018. Pada kesempatan tersebut, ia berhasil mempublikasikan temuannya mengenai peningkatkan work engagement melalui kualitas hubungan atasan-bawahan dan modal psikologis yang selanjutnya dipublikasikan melalui Canadian Defence Academy Press.

    Meskipun banyak pengalaman menyenangkan telah didapatkan, sama seperti profesi lain yang juga menghadapi kendala. Helmi sebagi seorang prajurit dan psikolog sempat mengalami sendiri beragam kendala lapangan yang berkaitan dengan profesinya. Beberapa kendala yang ditemui banyak yang berkaitan dengan kondisi psikologisnya maupun prajurit lain, seperti kebosanan, stres, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi kendala tersebut saat sedang dalam penugasan, ia mengembalikan dirinya pada keyakinan bahwa menjadi TNI adalah sudah pilihan hidupnya sehingga loyalitas terhadap negara dan perintah atasan bukanlah beban, tetapi amanah yang harus dijalankan. Selain itu, kekhasan TNI adalah kebersamaan dan jiwa korsa, hal tersebut melahirkan social support yang menguatkan mental prajurit dalam menghadapi berbagai tantangan tugas. Apabila ia merasakan emosi negatif, biasanya ia membandingkan bahwa ada orang lain yang lebih sulit dari pada yang dialami dirinya saat itu. Pengalaman berharga dialaminya pada saat menjadi Perwira Psikologi Pasukan Perdamaian PBB (Satgas Kontingen Garuda XXXV-A/UNAMID) di Darfur, Sudan. Segala macam stres, kendala dan hambatan yang dialami prajurit selama bertugas ternyata tidak seberapa dibandingkan keadaan masyarakat yang menjadi korban konflik. Ternyata bersyukur (gratitude) adalah modal psikologis yang dapat membuat seseorang memiliki ketabahan, resiliensi dan optimisme di berbagai penugasan.

    Helmi Pamungkas-Satgas Kontingen Garuda XXXV-A/UNAMID di Darfur, Sudan

    Kendala yang ia rasakan tidak hanya terjadi ketika di lapangan. Pada awal kariernya ia juga sempat menghadapi kendala terkait dengan peran ganda antara perwira dan psikolog. Kendala yang dirasa berupa kesulitan untuk menyesuaikan perannya sebagai psikolog maupun perwira. Akan tetapi seiring berjalannya waktu ia dapat menyesuaikan dengan peran yang ia emban dan belajar nilai-nilai kepemimpinan di TNI dengan menerapkan motto “Untuk menjadi seorang perwira (pemimpin) yang berhasil tidak harus menempatkan dirinya sebagai seorang komandan, tetapi juga sebagai seorang ayah, guru, pelatih dan teman bagi para prajuritnya”. Hal tersebut membuat dirinya menerapkan beberapa prinsip ilmu psikologi untuk dapat bermain peran sesuai dengan situasi yang dihadapi.

    Melalui kisah perjalanan Helmi, dapat kita ketahui bahwa menikmati takdir terkadang memberikan kejutan dan warna baru dalam hidup kita. Menikmati challenge yang diberikan oleh takdir, berfikir positif dan tidak terlalu idealis membuat kita jauh dari rasa tertekan maupun stres yang berlebih ketika takdir tidak sesuai rencana. Berdasarkan pengalamannya, ia berpesan kepada kita agar tidak takut untuk menjadi berbeda karena menjalani takdir yang ada. Karena selama seseorang mampu menyeimbangkan challenge dengan skills yang dimiliki, maka yakinlah ia akan senantiasa mampu mengalir dan menikmati proses (flow) dan menemukan keberhasilan di mana saja takdir membawamu. (Anjuni)

  • Ni Komang Meta Saraswati Sabeh: Terus Mengembangkan Diri, Belajar dan Bermanfaat untuk Sesama

    Menyeimbangkan kehidupan antara tugas pokok dengan hal yang disukai memang telah lama diterapkan oleh Meta. Alumni angkatan 2010 ini memiliki beragam kesibukan yang ia tekuni selama menjalani pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bahkan sampai sekarang. Meta sendiri merupakan pribadi yang sudah menyukai kegiatan yang menantang dan memberikan kesempatan bertumbuh. Hal ini mengarahkan ia untuk bergabung dengan beberapa organisasi di kampus yang mampu mewadahi ketertarikannya terhadap dunia sosial, klinis dan juga kesenian. Organisasi-organisasi yang ia ikuti tersebut seperti Keluarga Rapat Sebuat Teater (KRST), Center of Indigenous and Cultural Psychology (CICP), menjadi salah satu founder (Youth Empowerment Studio) YES! hingga magang sebagai asisten di Unit Konsultasi Psikologi. Melalui berbagai organisasi tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan soft skills yang sangat berguna dalam kariernya. Bukan hanya itu, ia juga berkesempatan untuk melihat penerapan ilmu psikologi di beragam aspek kehidupan.

    Beragam kesempatan menjembatani Meta dengan kenyataan di lapangan dan membuatnya semakin memahami bahwa ilmu psikologi dapat bersinergi dan saling mengisi dengan beragam disiplin ilmu lain. Berangkat dari hal yang ia dapatkan dari bangku perkuliahan maupun beragam organisasi yang diikuti, Meta melanjutkan pendidikan Master of Global Mental Health di University of Glasgow. Ia bertekad dan menanamkan pemahaman bahwa melalui ilmu kesehatan mental, ia dapat berkontribusi di berbagai sendi kehidupan masyarakat. Alumni yang juga salah satu founder YES! ini terus aktif mengikuti beragam kegiatan hingga turut serta menjadi relawan. Sama seperti semasa pendidikan sarjana, ia juga mendapatkan banyak pengalaman dan kesempatan berharga yang mendukung perjalanan kariernya sekarang.

    Segudang pengalaman yang ia dapatkan membuatnya semakin tertarik untuk bergabung dengan organisasi yang berkaitan dengan masyarakat, kesehatan mental, dan kesenian. Setelah menyelesaikan pendidikan magisternya, ia bergabung dengan International Organization for Migration (IOM) – United Nation Migration (UN Migration). Sebagai bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), IOM Indonesia mendukung dan membantu pemerintah Indonesia dalam mempromosikan dan mengelola migrasi yang berperikemanusiaan, teratur dan bermanfaat bagi semua. IOM Indonesia juga membantu mengelola pemenuhan kebutuhan dasar para migran, termasuk dalam aspek kesehatan dan pendidikan. Tergabung di dalam tim Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS), telah memberikan kesempatan bagi Meta untuk mengkolaborasikan ilmunya dengan beragam disiplin ilmu lainnya. Hal ini membuat Meta semakin mensyukuri kebermanfaatan ilmu psikologi, khususnya kesehatan mental, bagi masyarakat.

    Bersinergi dalam perkerjaan yang interdispliner tentu saja memberi keunikan dan tantangan tersendiri bagi Meta. Menghadapi tantangan tersebut, ia menerapkan beberapa hal, salah satunya adalah selalu berusaha untuk open minded untuk belajar dari perspektif lain. Memang tidak dapat disangkal bahwa terkadang kondisi tertentu membuat Meta merasa stuck, sehingga mengharuskannya untuk rehat sejenak. Cara ini membantunya untuk menjernihkan pikiran, mengingat kembali passion dan motivasi bekerja, sehingga ia dapat kembali objektif dalam menilai dan berdinamika dengan berbagai pihak. Tidak hanya itu, prinsip yang ia pegang juga membantunya untuk kuat. Meta meyakini bahwa ia harus tetap mencoba menikmati proses, bertumbuh dan bermanfaat dalam cara yang baik dan benar. Ia memberikan pesan untuk mahasiswa maupun alumni muda lainnya tetap bersemangat untuk bertumbuh dan mengeksplorasi kontribusi apa yang ingin diambil di masyarakat melalui beragam jenis karier yang ada, terutama di ranah kesehatan mental. (Anjuni)